04 04 2012: Cinta, Kupu-Kupu & Papa

Tinggalkan komentar

Kenapa hari ini tema-nya cinta?

Pagi-pagi, masih di kosan, tiba-tiba bertemu dua insan sedang memadu kasih. Si gadis adalah teman lama saya yang satu perguruan sejak SMP sampai kuliah. Si bujang adalah tetangga kosan, temannya teman, meski sebenarnya sudah kenal sejak tahun pertama kuliah. Si bujang memanggil saya ‘baliho man’, terkait kegilaan saya di sebuah acara kampus, zaman muda dulu. Senang melihat mereka bahagia. Sembari terpikir betapa sempit dunia ini.

Siang ini saya harus ke Jakarta. Di perjalanan, lebih tepatnya di kereta. Seekor kupu-kupu hinggap di tangan saya. Hm, sepertinya dia terjebak di kereta. Saya buat kupu-kupu itu nyaman di tangan. Meskipun jadi agak pegal. Saya bahagia. Saya suka binatang. (tumbuhan & alam juga sih, pokoknya saya suka kehidupan). Pertama hinggap, dia jilat-jilat kulit saya. Lidahnya yang panjang dijulur-julurkan. Sensasi gelinya terdeteksi syaraf kulit saya. Untung gelinya tidak sampai membuat tangan saya bergetar. Mungkin sekitar sepuluh kali dia jilat kulit saya. Setelah itu dia diam. Dan saya juga diam. Melihat wajahnya. Mencoba memahami ekspresinya.

Saya lalu duduk. Dan dia masih nyaman di tempatnya. Di sana dia, sejak dari 2-3 stasiun sebelum stasiun Cawang, sampai turun di stasiun sudirman,  sampai naik kopaja, sampai kopaja 19 itu di bilangan jalan-berbentuk-kupu-kupu: Semanggi. Akhirnya dia terbang. Bukan karena guncangan. Bukan karena angin kencang. Mungkin dia sudah bosan. Mungkin dia sudah sampai tujuan. Tidak ada yang tahu. Yang saya tahu, saya bahagia karenanya. Dan ingin bertemu dia lagi.

Halo teman! 🙂

Sore-sore-nya, sehabis rapat dengan tim, di Binus Senayan. Saya spontan terpikir untuk pulang ke Tangerang. Entah kenapa tiba-tiba merasa bahagia, membayangkan orang tua yang bahagia dikejutkan oleh anaknya. Saya biasanya malas pulang. Perjalanan Depok-Tangerang selalu berhasil merusak suasana hati saya. Macet sih, lebih tepatnya.

Tapi kali ini diperjalanan hati saya dipenuhi kebahagiaan.  (Meski tahu kalau hanya bisa mampir sebentar di Tangerang, dan pulang kembali ke Depok malam ini juga. Sepeda saya saya tinggal di halte sendirian, tanpa dititip. Saya tidak mau bermain dengan peluang kehilangan sepeda). Saya tiba-tiba malah tiba-tiba kangen papa. Saya memang dingin kalau bicara di telepon. Kalau bertemu juga cenderung dingin. Hampir tidak pernah kangen-kangenan. Tapi kalau ada momennya, perasaan bisa diperkuat berkali-kali lipat. Nonton Godfather II, saya nangis terisak-isak, teringat cerita penderitaan hidup Papa di masa muda dulu (setelah melihat hidupnya Vito Corleone). Sekarang, di sebuah bus di tol Jakarta-Tangerang. bibir saya bersimpul senyum kecil, dan mata berair. Sadar bahwa tempat cinta adalah di mana dia bisa diwujudkan, dinyatakan, dilakukan.

Sepedanya masih ada

Asyik, sepedanya masih ada.

02 04 2012: Lelah

Tinggalkan komentar

Pagi ini terbaring. Terbaring lelah fisik dan jiwa.

Urusan kuliah malas diurus. Ujian khilaf terlewat, dan memang kurang dipedulikan sebelumnya.

Alasan: karena sedang mengembangkan produk sendiri. Itupun sinusoid perkembangannya. Ketika suasana senang kondusif & semangat, baru bisa kerja mati-matian, sisanya cenderung banyak terpaku dan menghayal. Berat jari ini untuk turun mewujudkan hasil hayalan tersebut. Sering juga ketika sedang semangat di kosan, koneksi internetnya yang kurang bersahabat.

Sementara orang tua di Tangerang sana kerja banting tulang kurang tidur, jauh lebih parah dari orang-orang sebaya mereka. Sementara di belahan dunia lain beberapa pekerja anak dibangunpaksakan.

Tolong kembali duhai keseimbangan hidup. Rumah paling nyaman untuk sesuatu bernama produktifitas, & niat yang tulus dan didengar.

Hal ini tidak di luar kontrol saya sebenarnya. Saya boleh mengkhawatirkannya. Saya boleh kecewa karenanya. Dan saya harus beraksi mengadakannya. Saya harus seimbangkan hidup.

02 04 2012: Voice From The East, Agama, & Bunuh Diri

2 Komentar

Hari ini kutemui puisi menarik karya Dino Umahuk…

bila nanti siang kau sholat jum’at
barangkali di masjid Al-Fatah
atau hari minggu nanti kau ikut kebaktian atau missa
mungkin di gereja Maranatha mungkin di Keuskupan
tolong tanyakan kepada Muhammad dan Isa yang agung itu
apakah mereka mengajarkan agama Tuhan
agar kita saling membunuh ?

Kalau memang demikian
Mengapa agama melarangku bunuh diri

Ambon 1999

AGAMA BUNUH DIRI | Voice From The East.

Menarik. Karena terpicu pikir di kepalaku: apalah beda ku bunuh kau di sana, dengan ku bunuh diriku di sini?

Terima kasih Dino. Terlepas dari puisi di atas. Ku kirimkan doa dan hening untuk Indonesia Timur di sana.

Semoga manusia laknat rakus di mana pun mereka berada sadar bahwa mereka dengan jahat memanfaatkan keberuntungan mereka.

Semoga manusia lemah di mana pun mereka berada, mau memperkuat diri mereka. Karena tidak ada dunia yang damai sentosa, selain dunia yang seimbang.

01 04 2012: Saya Sombong, Malu Bertanya, & Sesat di Jalan

Tinggalkan komentar

Orang tua saya pernah bilang saya orang yang sombong, congak, dan angkuh. Saya tidak setuju, saya lebih suka menyebutnya, PD-berlebih. Tapi itu dulu, setelah hari ini kena pukul berkali-kali oleh sifat itu. Baru mengerti saya.

Kejadian hari ini sungguh ajaib hingga saya memutuskan menulisnya di sini.

Hari ini ini saya harus pergi ke TEDx Jakarta. Lelah sebenarnya, baru tidur empat jam, itupun mulai tidur subuh. Tapi apalah  daya. Saya tidak mau nama saya didaftarhitamkan karena menyisakan bangku kosong yang sia-sia. Sekedar info, tiket TEDx lubes habis dalam waktu 3 menit. Banyak yang sedih karena tidak kebagian tiket. Mereka akan lebih sedih lagi kalau tahu saya ternyata tidak jadi datang. (Jadi ingat orang-orang yang meninggalkan hasil positif ujian PTN)

Acaranya jam 10 dan saya agak telat berangkat dari kosan. Cukup bersejarah, karena ini pertama kali saya ke suatu tempat yang tidak saya tahu rutenya, tanpa minta saran, hanya berbekal GPS dan GMap dalam genggaman.

Dan hal lucu pun itu di mulai. Di sisi keberangkatan, saya salah turun sekali. Dan parahnya, saya melanjutkannya dengan berjalan-berlari saat sebenarnya bisa cukup sekali naik metromini. Dan itu cukup jauh.

Pulangnya lebih menyedihkan lagi. Karena malas mengunggu trayek yang sudah pasti, saya ambil resiko untuk asal naik. Asal naik-naik bus ke Bogor, cuma karena asumsi bahwa bus ke Bogor di Jakarta Selatan pasti lewat Depok. Asumsi yang baru diketahui salah 15 menit setelahnya. Turun dari bus tersebut tetap saja tidak beres. Dikira bisa sampai dengan satu angkot ke Depok (saya terlalu cepat turun dari bus Bogor tersebut). Ternyata harus dua kali naik angkot. Tapi malah jadinya tiga kali naik angkot.

Entah kebetulan yang terlalu muskil untuk terjadi. Saya berangkat naik turun angkutan umum seperti ini karena malu meminta nebeng sama teman saya di hari-hari sebelumnya.

Ya mama papa, saya sombong, terlalu-PD, malu bertanya, tidak sabar.

Kadang kita memang perlu ditampar,
untuk sadar.

19 03 2012: Pandangan Baru Tentang Kehidupan

Tinggalkan komentar

Dulu ku kira seseorang dinilai dari berapa ia mampu membawa dirinya bermanfaat bagi ekosistem di sekitarnya. Bukan posisi politik mu. Atau permainan lempar dadu genetika, atau takdir, yang kau terima dari orang tua mu; kecerdasan, kecantikan, kasta sosial, modal.

Lalu ku ditampar sadar. Oleh lembar di majalah pagi ini. Di warung fotokopi bernama Senyum. Tercetak di atasnya sebuah foto: Bilik kecil kumuh milik nenek yang tak kalah kumuh. Terbaring menatap kosong pada panci di dinding, atau pada dinding. Bangku kecil pengganjal kaki akibat kasur, –lebih tepatnya papan, yang kurang panjang. Tertulis;

“LUMPUH. Hafila Daeng Nginga hanya bisa berbaring dan duduk di atas kasur lecek di depan kamar mandi di Bontoala, Makassar, Kamis pekan lalu. Janda 82 tahun ini sudah 3 tahun menempati ruangan berukuran 3 x 2 meter milik seorang warga yang menampungnya. Hafila tak berdaya akibat lumpuh”.

Mungkin manusia bukanlah juga tentang berapa usaha mereka untuk menebar manfaat pada sekitar. Jika iya, tentu jadi tidak bernilai; Tarzan, Mowgli, atau manusia terakhir yang hidup di Bumi ini.

Halifa telah menyadarkan aku. Mungkin hidup, adalah tentang bagaimana, menghargai kehidupan itu sendiri.

image

15 03 2012: Tentang rumput

Tinggalkan komentar

Kawan, saat ku buka dan tenteng sepatu masuk ke masjid itu. Ku tahu kawan telah lama merindunya.

Rumput dan tanah yang sejuk. Tekstur kasar, namun bisa kau rasa lembut bulu halusnya bermain dengan pori-pori mu. Lembaran-lembaran yang mengisi sela jari mu.

Teman lama yang sempat yang terlupa kah? Atau memang rumah masa kecil yang sudah lama ditinggal?

Apapun itu, nikmati lah lepasnya dahaga rindu itu kawan. Karena mau ku bawa dan ku basuh kawan, di bilik air di seberang sana.

09-10-11 03 2012: Sureal

Tinggalkan komentar

Tidak ada hal menarik? Ada sih beberapa sepertinya. Kau tahu? Momen-momen di mana kau berhenti sejenak berada di dunia mu, pindah sepenuhnya ke dalam kepala mu, lalu berkata; “hey, ini sepertinya menarik untuk ditulis”. Tapi ya, karena telah disebut sebelumnya, bahwa ini, ‘sejenak’. Dalam sejenak pula akhirnya, kau bisa melupakannya.

Setidaknya ada satu yang sering teringatkan untuk ditulis; tanggal 9 & 10 Maret yang sureal. 9 Maret yang menyenangkan sebenarnya. Sakit namun cukup sibuk. Pagi kuliah, sebelum pagi sibuk menyiapkan sesuatu untuk acara malam nanti, siang mondar mandir dengan sepeda untuk berobat,  sore dan malamnya sibuk menikmati sebuah acara yang menyenangkan dengan badan yang masih sakit.

Aroma-aroma sureal sudah bisa terasa di perjalan pulang selepas acara tersebut dari kampus ke kosan. Kau tahu? Sebuah perasaan di mana kau gowes sepeda itu, kau tatap jalan itu, lalu entah mengapa dunia terasa sepi namun sekaligus ramai. (Maksud yang lebih mudah mungkin; tidak lagi mengenal istilah sepi atau pun ramai). Semua bergerak, tapi tak kau anggap hidup, termasuk dirimu. Perasaan yang aneh. Seperti kau tidak punya kontrol apa-apa lagi, tapi kau menikmatinya. Seperti setengah sadar. Tapi sepenuhnya kau terima segala apa adanya. Seperti tidak ada waktu. Karena tiada kau harap apapun. Tiada kau sesal apapun. Kau hanya ada, menjalaninya, dan menerimanya.

Dua hari kedepannya perasaan itu, yang ku sebut sureal tanpa ku benar-benar tahu makna sebenarnya, sekelibat-kelibat muncul kembali. Mungkin karena pengaruh obat. Mungkin.

Older Entries Newer Entries