03-07-2012: Ujung

1 Komentar

Ujung #1

Kadang kau merasa sebegitu pasrahnya sehingga kau memohon meminta. Untuk setidaknya dia berikan jawaban dari pertanyaan itu dalam mimpi. –padahal sebelumnya kau tiada menghargai mimpi sebagaimana seorang mistikus. Itu semua karena kau tidak tahu lagi, jalan apa, dan di mana, kau bisa menghampirinya, atau dia menghampirimu.

Kau bimbang limbung. Karena kau tahu kau sendirian. Tapi kau rasa kau tidak bisa hidup seperti itu. Juga beberapa hal lain di sampingnya, yang sebenarnya tidak bersalah, terpaksa menjadi rumit. Sebagian hidupmu rumit. Seandainya bisa terkatakan.

Tapi kau juga damai. Dalam gua heningmu. Kau terima dirimu sepenuhnya secukupnya. Kau sadar. Tidak ada yang berbeda sebenarnya, kau yang lalu, –sebelum kau bertanya, dan kau yang kini. Tidak ada yang bermasalah sebenarnya kau pikir. Tidak pernah ada pertanyaan yang salah. Karena pertanyaan adalah pertanyaan. Hanya kau tidak bisa menerka pikir dan rasa orang lain. Kondisi luarlah yang membuat. Sendiri.

Tapi juga tiada kau salahkan kondisi yang merumitkan ini. Kau belajar dari pengalaman. Menerima apa yang tidak bisa kau ubah, adalah pangkal dari kebahagiaan. Salah satunya adalah dirimu. Kau kenal dirimu. Kau tumbuh bersamanya. Kau tahu, seperti itulah bagian dari dirimu yang tak bisa kau ubah. Sebagaimana adanya dia memberi.

Ini hal lain memang. Tapi ku tahu kau juga bahagia saat ini. Dalam proses untuk melepaskan apa-apa yang kau tambahkan padamu. Untuk berjalan telanjang. Tanpa harap ambisi. Tanpa diri. Atau justru, dengan sepenuhnya diri. Perihal laku-laku yang baik, kau lakukan apa yang ada tepat di depan hidungmu, dan rencanakan apa yang menghampar setelahnya. Juga tanpa ketakutan dan kekhawatiran. Aku ingat saat kau baca kabar duka akan sepupumu yang meninggal karena kecelakaan. Tiada gejolak batin. Seperti kau terima begitu saja hal itu sebagai bagian dari kehidupan manusia. Turut bahagia atas kedamaian dan kebahagiaanmu saat ini.

“Kita adalah kita, sebelum apa-apa yang kita tambahkan pada kita”. Ya, itu yang kubisikan pada mimpimu awal malam tadi. Yang membuat kau terjaga dan terpicu untuk menulis ini.

Kawan, bukankah kau sedang belajar untuk sepenuhnya menerima yang-memang-hanya-bisa-diterima? Bukankah rasa dan pikir mereka di luar sana sama-sama tiada bisa dikontrolnya, seperti bagian dirimu yang tak bisa kau ubah itu?

Usahlah risau atas rumitnya sebagian hidupmu itu. Alihkan energi pada sesuatu yang memang kau kendalikan. Yang memang jatahmu. Untuk selainnya, serahkan pada dia. Lalu tersenyumlah. Itu yang terbaik yang bisa kau lakukan.

Kita sudah berjalan berbicara sejauh ini.
Saranku kawan; di ujung ini kau berhenti. Duduk. Diam. Menyerah (baca: me-serah). Berserah. Tetap tersenyum. Tetap berbahagia. Menunggu dia menjemput. Membawa jawaban.

Ujung #2

Blog ini disudahi oleh penulisnya.

Penjelasan menyusul.

22-04-2012: Makan, Berdoa & Bercinta

4 Komentar

Sebagaimana judul yang mudah ditebak. Tulisan ini berhubungan dengan fiksi Eat, Pray, & Love.

Baru ku tonton seperempat film itu. Tapi banyak hal menarik. Hal menarik yang harus ku catat sebelum ku lupa.

Beberapa hal dalam Liz kutemukan dalam hidupku (dan mungkin banyak orang lain sebenarnya). Dia dalam hubungan yang unik dengan Tuhan (atau pandangan dia akan ketuhanan). Orang banyak memberi istilah ‘pencarian’, tapi menurut ku sebenarnya lebih dari itu. Aku tidak akan bahas banyak, ini privat.

Dalam hidup, ada masa, atau kondisi, dimana kita hanya ingin menghilang sepenuhnya. Lari. Entah masalah yang terlampau berat. Entah kebosanan yang memberikan karat bagi diri. Entah itu ‘pencarian’ atau ‘pengungkapan’. Kondisi, yang Ibuku pernah bilang, seolah-olah hanya ingin turun-naik bus tanpa tujuan. Orang di luar mungkin akan melihat gila, depresi, atau apa. Tapi sebenarnya yang kita lakukan adalah memberi jarak dari ego kita, dari ‘diri’ yang selama ini kita kenakan dan kita bawa kemana-mana. Justru di titik itulah kita mungkin bisa merasa damai. Mungkin orang gila yang terdiam itu adalah orang yang paling merasa damai di kolong langit ini. Mungkin.

Saat Liz ingin ‘menghilang sepenuhnya’, di sisi lain dia sebenarnya ingin memberikan waktu untuk dirinya seorang. Dia bilang sejak umur 15, dirinya entah di antara sedang jatuh cinta atau sedang bermasalah cintanya (saat itu dia sedang bermasalah dengan lelaki pelariannya). Sekarang dia hanya ingin memanjakan dirinya, sembari memikirkan kehidupannya. Sedangkan aku adalah orang yang selama ini memberikan segalanya untuk diri. Orang yang berhenti meninggalkan dua orang yang sedang berjalan bersamanya, untuk bertanya dengan kumpulan anak kecil yang memakai kaos unik, bertanya dan dua menit mendengarkan mereka menceritakan aktivitas mereka. Orang yang berhenti sendiri dan lepas dari rombongan untuk tenggelam dalam rasa ingin tahunya. Aku juga pernah menjadi anak SD  pada rombongan karya wisata. Yang kabur dari rombongan untuk berkunjung ke musium, dan kolam renang. Semuanya sendirian. Interaksi antara pikiran ku dan alam raya sering kali menjadi prioritas utama. Aku tahu ini menyebalkan bagi kebanyakan orang. Maaf untuk itu.

Sekian dulu hal-hal menariknya. Aku lanjut nonton lagi

[Kali ini tidak ada hubungannya dengan kisah fiksi. Hanya aku yang ingin berkisah]

Kadang aku merasa iri dengan hidup di dalam sebuah film. Dia bisa melipatgandakan atmosfir sebuah kejadian. Memberikan permainan visual di dalamnya, alih-alih sudut-sudut pandang yang biasa kita jangkau dengan kepala dan mata kita. Memotong-sambungkan kejadian demi menjaga ritme, alih-alih kesadaran kita yang terus terjaga dan mengalir linier. Menyajikan suara-suara yang membantu membangun suasana, alih-alih telinga kita yang entah harus tunduk pada apa yang terdaftar pada pemutar musik portabel kita atau suara alami diluar sana.

Kadang aku lupa. Semua kendali sebenarnya ada di otak kita. Kita bisa mengatur segalanya. Bahkan membuat sebuah adegan dalam hidup kita bisa lebih memberikan kesan dari adegan manapun di dalam sejarah film. Terlepas dari itu. Ada yang tidak akan bisa dimanipulasi adegan film: udara dan aroma yang kau hirup, padangan penuh yang kau dapat dari seluruh mata-mu, suara dengan kualitas sempurna, rasa yang kau kecap, tekstur yang kau sentuh, dan, pastinya, sebuah pengalaman nyata.

[komentar atas adegan Liz makan pasta di Italia]

Akhirnya si film berhasil ditonton sampai selesai. Roma, India, dan Bali sudah disambangi.

Kisahnya sebenarnya sederhana. Dan penuh pelajaran hidup khususnya untuk mereka yang sedang dirundung masalah, atau mereka yang suka mencari makna. Tadinya saya ingin bercerita hal-hal menarik. Tapi lebih baik tonton saja sendiri, atau baca novelnya.

10 04 2012: Lebih Buruk Dari Mati

Tinggalkan komentar

Membuntuh suntuk; satu episode serial Dokter House itu aku klik dua kali. Aku bersumpah hanya menonton satu saja. Sejurus setelahnya ku baru sadar, tak perlu bersumpah, itu memang episode terakhir yang kupunya.

Kali ini pesakitannya adalah seorang pecinta buta, -denotatif.

Bagian menarik adalah ketika penanganan terakhir yang bisa dilakukan House dkk adalah dengan memberikan obat dengan peluang tuli permanen. Penanganan terakhir dari kematian.

Saat dokter menceritakan resiko obat tersebut ke si penyakitan.

Lalu si penyakitan menangis. Dia tolak obat itu. Lebih baik mati dari pada jadi buta dan tuli.

Dijawab oleh dokter, “ya kamu bakal mati”.

Lalu dibalas, “ya ini memang lebih buruk dari mati”.

Hm, menarik: “Lebih buruk dari mati”…

Apakah mati lebih baik dari pada hidup dengan kehilangan segalanya?

Ataukah memang benar bisa kita terus hidup sekaligus kehilangan segalanya? Tidak memiiliki apa-apa?

Apa yang akan saya pilih jika berada di posisi si pesakitan? Apa yang saya lakukan jika ternyata dunia dengan segala kejutannya membuat saya harus kehilangan penglihatan dan pendengaran?

Ketika saya kehilangan segalanya apakah saya masih bisa menghargai hidup? Dan tetap bersyukur karenanya?

Apa itu “segalanya”?

Apakah sesuatu yang tidak bisa dicuri dari hidup adalah hidup itu sendiri?

Dan apakah hanya dengan memiliki itu kita menjadi bebas? Kuat? Ketika dititik “terendahpun” kita masih menghargai hidup?

Menarik. Menurut mu?

~ ditulis sembari mendengar The Tourist-nya Radiohead.

10 04 2012: Pare & Dia

Tinggalkan komentar

Pare, dalam sup di mangkuk putih di atas meja, ku sendok, lalu ku tatap gugup. Aku sudah lupa kapan terakhir kali makan pare. Yang jelas dia tidak enak.

Ku lihat sekeliling, sepertinya aku sedang berada di sebuah kafe atau restoran. Kelas menengah, dengan pencahayaan lembayung kuning. Aku duduk di bangku panjang. Menghadap meja krem. Di samping mejaku terdapat tembok bercat coklat. Tinggi setengah meter. Di atasnya ditumbuhi tumbuhan rimbun lebat, sekeluarga rumput. Mejaku sendiri sepertinya cukup ramai diisi orang. Tapi yang kuingat hanya dua gadis di samping kiriku.

Dan pare itu masuk ke mulutku. Sempat kupandang dulu bentuknya. Lalu setelah gigitan dan kunyahan pertama: aneh. Rasanya renyah dan menyegarkan, tidak pahit. Alis terangkat. Mulut agak tersenyum. Ku alihkan pandangan menuju gadis di pojok itu. Lalu dia makan pare itu juga.

Ku tanya bagaimana rasanya? Dia menjawab. Lalu kutanya lagi, entah apa. Di tetap menjawab antusias. Begitu seterusnya. Aku terlihat seperti mendengar. Padahal pikiran ku sedang ke mana-mana. Aku hanya bahagia. Menatap wajahnya. Melihat dia berbicara. Mendengar suaranya.

Lalu yang ku lihat adalah bantal, kasur, dan lenganku. Juga lemari setengah berpintu. Ini kosanku. Selepas tidur siangku.

Sial: alam bawah sadarku jatuh cinta!

07 04 2012: Saya Bermutu?

Tinggalkan komentar

Konon katanya, di Komunitas Biola Depok hari ini, ada tiga kejadian yang saling independen;

#1) Pas baru datang, ke perpus pusat. Mas Wando, si bos besar, nanya umur saya berapa. Di sebelahnya ada mbak-mbak yang tidak saya kenal. Saya jawab “21”. Terus Mas Wando bilang ke mbak-mbak-nya, “tuh, mbak masih 20-an sekian, masih bisa belajar biola kok.”

Mungkin Wando kira umurku 20-an sekian. Jadi pembanding dengan mbak2 itu. Saya baru gabung sebulan soalnya.

#2) Lagi ngobrol sama Leila, kenalan baru (anak biola juga), di tengah-tengah latihan. Di tengah obrolan standar orang baru kenalan. Saya nanya2 tentang kuliah dia (anak 09 FH). Trus dia balik nanya “Lu dulu fakultas apa?”. Lalu saya tertawa, “hahaha”.

Mungkin Leila kira saya sudah tidak kuliah.

#3) Di perjalanan pulang, dari latihan lanjutan di kosan teman, Mas Didi nanya, “emang lo lahir tahun berapa?”. Saya jawab “90”. “BUAHAHAHA… Boros amat lo pul!”. Mas Didi sambil ngebut gitu. Saya genjot sepeda, mengejar motornya. “Boros maksudnya?”. “Muka lo boros! Hahaha! Kebanyakan radikal bebas lo!”. “Huahaha”, ikut tertawa saya. Entah apa pikir orang pinggir jalan. Dan kucing abu-abu yang hampir saya tabrak.

Jelas Didi berfikir saya seharusnya beberapa tahun lebih tua.

Akhir kata, tiga kejadian tersebut murni independen. Tapi kata Parto OVJ, ada benang merahnya.

05 04 2012: Yay! Ini hidupku.

Tinggalkan komentar

Sore ini di atas motor. Ada keperluan harus keluar. Sekilas melihat ada yang menarik: toko percetakan. Mampirlah aku. Kenalan sama yang jaga, sok asik, liat-liat, tanya-tanya harga, kualitas. Lumayan, buat referensi produk kaos yang mau aku bikin. Terus pulang. Namanya juga mampir-mampir spontan dengan motor pinjaman. Tidak bisa lama-lama.

Diperjalanan, mikir-mikir. Enak ya hidup seperti ini. Sibuk bikin produk. Bertemu dan berkenalan banyak pihak terkait produk. Entah itu produk internet, ataupun produk fisik nyata. Merintis itu memang berat, tapi asik.

Tapi merintis itu harusnya satu-satu… #jleb.
Lanjut ngoding Testimoo…

04 04 2012: Cinta, Kupu-Kupu & Papa

Tinggalkan komentar

Kenapa hari ini tema-nya cinta?

Pagi-pagi, masih di kosan, tiba-tiba bertemu dua insan sedang memadu kasih. Si gadis adalah teman lama saya yang satu perguruan sejak SMP sampai kuliah. Si bujang adalah tetangga kosan, temannya teman, meski sebenarnya sudah kenal sejak tahun pertama kuliah. Si bujang memanggil saya ‘baliho man’, terkait kegilaan saya di sebuah acara kampus, zaman muda dulu. Senang melihat mereka bahagia. Sembari terpikir betapa sempit dunia ini.

Siang ini saya harus ke Jakarta. Di perjalanan, lebih tepatnya di kereta. Seekor kupu-kupu hinggap di tangan saya. Hm, sepertinya dia terjebak di kereta. Saya buat kupu-kupu itu nyaman di tangan. Meskipun jadi agak pegal. Saya bahagia. Saya suka binatang. (tumbuhan & alam juga sih, pokoknya saya suka kehidupan). Pertama hinggap, dia jilat-jilat kulit saya. Lidahnya yang panjang dijulur-julurkan. Sensasi gelinya terdeteksi syaraf kulit saya. Untung gelinya tidak sampai membuat tangan saya bergetar. Mungkin sekitar sepuluh kali dia jilat kulit saya. Setelah itu dia diam. Dan saya juga diam. Melihat wajahnya. Mencoba memahami ekspresinya.

Saya lalu duduk. Dan dia masih nyaman di tempatnya. Di sana dia, sejak dari 2-3 stasiun sebelum stasiun Cawang, sampai turun di stasiun sudirman,  sampai naik kopaja, sampai kopaja 19 itu di bilangan jalan-berbentuk-kupu-kupu: Semanggi. Akhirnya dia terbang. Bukan karena guncangan. Bukan karena angin kencang. Mungkin dia sudah bosan. Mungkin dia sudah sampai tujuan. Tidak ada yang tahu. Yang saya tahu, saya bahagia karenanya. Dan ingin bertemu dia lagi.

Halo teman! 🙂

Sore-sore-nya, sehabis rapat dengan tim, di Binus Senayan. Saya spontan terpikir untuk pulang ke Tangerang. Entah kenapa tiba-tiba merasa bahagia, membayangkan orang tua yang bahagia dikejutkan oleh anaknya. Saya biasanya malas pulang. Perjalanan Depok-Tangerang selalu berhasil merusak suasana hati saya. Macet sih, lebih tepatnya.

Tapi kali ini diperjalanan hati saya dipenuhi kebahagiaan.  (Meski tahu kalau hanya bisa mampir sebentar di Tangerang, dan pulang kembali ke Depok malam ini juga. Sepeda saya saya tinggal di halte sendirian, tanpa dititip. Saya tidak mau bermain dengan peluang kehilangan sepeda). Saya tiba-tiba malah tiba-tiba kangen papa. Saya memang dingin kalau bicara di telepon. Kalau bertemu juga cenderung dingin. Hampir tidak pernah kangen-kangenan. Tapi kalau ada momennya, perasaan bisa diperkuat berkali-kali lipat. Nonton Godfather II, saya nangis terisak-isak, teringat cerita penderitaan hidup Papa di masa muda dulu (setelah melihat hidupnya Vito Corleone). Sekarang, di sebuah bus di tol Jakarta-Tangerang. bibir saya bersimpul senyum kecil, dan mata berair. Sadar bahwa tempat cinta adalah di mana dia bisa diwujudkan, dinyatakan, dilakukan.

Sepedanya masih ada

Asyik, sepedanya masih ada.

Older Entries