Ujung #1

Kadang kau merasa sebegitu pasrahnya sehingga kau memohon meminta. Untuk setidaknya dia berikan jawaban dari pertanyaan itu dalam mimpi. –padahal sebelumnya kau tiada menghargai mimpi sebagaimana seorang mistikus. Itu semua karena kau tidak tahu lagi, jalan apa, dan di mana, kau bisa menghampirinya, atau dia menghampirimu.

Kau bimbang limbung. Karena kau tahu kau sendirian. Tapi kau rasa kau tidak bisa hidup seperti itu. Juga beberapa hal lain di sampingnya, yang sebenarnya tidak bersalah, terpaksa menjadi rumit. Sebagian hidupmu rumit. Seandainya bisa terkatakan.

Tapi kau juga damai. Dalam gua heningmu. Kau terima dirimu sepenuhnya secukupnya. Kau sadar. Tidak ada yang berbeda sebenarnya, kau yang lalu, –sebelum kau bertanya, dan kau yang kini. Tidak ada yang bermasalah sebenarnya kau pikir. Tidak pernah ada pertanyaan yang salah. Karena pertanyaan adalah pertanyaan. Hanya kau tidak bisa menerka pikir dan rasa orang lain. Kondisi luarlah yang membuat. Sendiri.

Tapi juga tiada kau salahkan kondisi yang merumitkan ini. Kau belajar dari pengalaman. Menerima apa yang tidak bisa kau ubah, adalah pangkal dari kebahagiaan. Salah satunya adalah dirimu. Kau kenal dirimu. Kau tumbuh bersamanya. Kau tahu, seperti itulah bagian dari dirimu yang tak bisa kau ubah. Sebagaimana adanya dia memberi.

Ini hal lain memang. Tapi ku tahu kau juga bahagia saat ini. Dalam proses untuk melepaskan apa-apa yang kau tambahkan padamu. Untuk berjalan telanjang. Tanpa harap ambisi. Tanpa diri. Atau justru, dengan sepenuhnya diri. Perihal laku-laku yang baik, kau lakukan apa yang ada tepat di depan hidungmu, dan rencanakan apa yang menghampar setelahnya. Juga tanpa ketakutan dan kekhawatiran. Aku ingat saat kau baca kabar duka akan sepupumu yang meninggal karena kecelakaan. Tiada gejolak batin. Seperti kau terima begitu saja hal itu sebagai bagian dari kehidupan manusia. Turut bahagia atas kedamaian dan kebahagiaanmu saat ini.

“Kita adalah kita, sebelum apa-apa yang kita tambahkan pada kita”. Ya, itu yang kubisikan pada mimpimu awal malam tadi. Yang membuat kau terjaga dan terpicu untuk menulis ini.

Kawan, bukankah kau sedang belajar untuk sepenuhnya menerima yang-memang-hanya-bisa-diterima? Bukankah rasa dan pikir mereka di luar sana sama-sama tiada bisa dikontrolnya, seperti bagian dirimu yang tak bisa kau ubah itu?

Usahlah risau atas rumitnya sebagian hidupmu itu. Alihkan energi pada sesuatu yang memang kau kendalikan. Yang memang jatahmu. Untuk selainnya, serahkan pada dia. Lalu tersenyumlah. Itu yang terbaik yang bisa kau lakukan.

Kita sudah berjalan berbicara sejauh ini.
Saranku kawan; di ujung ini kau berhenti. Duduk. Diam. Menyerah (baca: me-serah). Berserah. Tetap tersenyum. Tetap berbahagia. Menunggu dia menjemput. Membawa jawaban.

Ujung #2

Blog ini disudahi oleh penulisnya.

Penjelasan menyusul.

Iklan