Sebagaimana judul yang mudah ditebak. Tulisan ini berhubungan dengan fiksi Eat, Pray, & Love.

Baru ku tonton seperempat film itu. Tapi banyak hal menarik. Hal menarik yang harus ku catat sebelum ku lupa.

Beberapa hal dalam Liz kutemukan dalam hidupku (dan mungkin banyak orang lain sebenarnya). Dia dalam hubungan yang unik dengan Tuhan (atau pandangan dia akan ketuhanan). Orang banyak memberi istilah ‘pencarian’, tapi menurut ku sebenarnya lebih dari itu. Aku tidak akan bahas banyak, ini privat.

Dalam hidup, ada masa, atau kondisi, dimana kita hanya ingin menghilang sepenuhnya. Lari. Entah masalah yang terlampau berat. Entah kebosanan yang memberikan karat bagi diri. Entah itu ‘pencarian’ atau ‘pengungkapan’. Kondisi, yang Ibuku pernah bilang, seolah-olah hanya ingin turun-naik bus tanpa tujuan. Orang di luar mungkin akan melihat gila, depresi, atau apa. Tapi sebenarnya yang kita lakukan adalah memberi jarak dari ego kita, dari ‘diri’ yang selama ini kita kenakan dan kita bawa kemana-mana. Justru di titik itulah kita mungkin bisa merasa damai. Mungkin orang gila yang terdiam itu adalah orang yang paling merasa damai di kolong langit ini. Mungkin.

Saat Liz ingin ‘menghilang sepenuhnya’, di sisi lain dia sebenarnya ingin memberikan waktu untuk dirinya seorang. Dia bilang sejak umur 15, dirinya entah di antara sedang jatuh cinta atau sedang bermasalah cintanya (saat itu dia sedang bermasalah dengan lelaki pelariannya). Sekarang dia hanya ingin memanjakan dirinya, sembari memikirkan kehidupannya. Sedangkan aku adalah orang yang selama ini memberikan segalanya untuk diri. Orang yang berhenti meninggalkan dua orang yang sedang berjalan bersamanya, untuk bertanya dengan kumpulan anak kecil yang memakai kaos unik, bertanya dan dua menit mendengarkan mereka menceritakan aktivitas mereka. Orang yang berhenti sendiri dan lepas dari rombongan untuk tenggelam dalam rasa ingin tahunya. Aku juga pernah menjadi anak SD  pada rombongan karya wisata. Yang kabur dari rombongan untuk berkunjung ke musium, dan kolam renang. Semuanya sendirian. Interaksi antara pikiran ku dan alam raya sering kali menjadi prioritas utama. Aku tahu ini menyebalkan bagi kebanyakan orang. Maaf untuk itu.

Sekian dulu hal-hal menariknya. Aku lanjut nonton lagi

[Kali ini tidak ada hubungannya dengan kisah fiksi. Hanya aku yang ingin berkisah]

Kadang aku merasa iri dengan hidup di dalam sebuah film. Dia bisa melipatgandakan atmosfir sebuah kejadian. Memberikan permainan visual di dalamnya, alih-alih sudut-sudut pandang yang biasa kita jangkau dengan kepala dan mata kita. Memotong-sambungkan kejadian demi menjaga ritme, alih-alih kesadaran kita yang terus terjaga dan mengalir linier. Menyajikan suara-suara yang membantu membangun suasana, alih-alih telinga kita yang entah harus tunduk pada apa yang terdaftar pada pemutar musik portabel kita atau suara alami diluar sana.

Kadang aku lupa. Semua kendali sebenarnya ada di otak kita. Kita bisa mengatur segalanya. Bahkan membuat sebuah adegan dalam hidup kita bisa lebih memberikan kesan dari adegan manapun di dalam sejarah film. Terlepas dari itu. Ada yang tidak akan bisa dimanipulasi adegan film: udara dan aroma yang kau hirup, padangan penuh yang kau dapat dari seluruh mata-mu, suara dengan kualitas sempurna, rasa yang kau kecap, tekstur yang kau sentuh, dan, pastinya, sebuah pengalaman nyata.

[komentar atas adegan Liz makan pasta di Italia]

Akhirnya si film berhasil ditonton sampai selesai. Roma, India, dan Bali sudah disambangi.

Kisahnya sebenarnya sederhana. Dan penuh pelajaran hidup khususnya untuk mereka yang sedang dirundung masalah, atau mereka yang suka mencari makna. Tadinya saya ingin bercerita hal-hal menarik. Tapi lebih baik tonton saja sendiri, atau baca novelnya.

Iklan