Pare, dalam sup di mangkuk putih di atas meja, ku sendok, lalu ku tatap gugup. Aku sudah lupa kapan terakhir kali makan pare. Yang jelas dia tidak enak.

Ku lihat sekeliling, sepertinya aku sedang berada di sebuah kafe atau restoran. Kelas menengah, dengan pencahayaan lembayung kuning. Aku duduk di bangku panjang. Menghadap meja krem. Di samping mejaku terdapat tembok bercat coklat. Tinggi setengah meter. Di atasnya ditumbuhi tumbuhan rimbun lebat, sekeluarga rumput. Mejaku sendiri sepertinya cukup ramai diisi orang. Tapi yang kuingat hanya dua gadis di samping kiriku.

Dan pare itu masuk ke mulutku. Sempat kupandang dulu bentuknya. Lalu setelah gigitan dan kunyahan pertama: aneh. Rasanya renyah dan menyegarkan, tidak pahit. Alis terangkat. Mulut agak tersenyum. Ku alihkan pandangan menuju gadis di pojok itu. Lalu dia makan pare itu juga.

Ku tanya bagaimana rasanya? Dia menjawab. Lalu kutanya lagi, entah apa. Di tetap menjawab antusias. Begitu seterusnya. Aku terlihat seperti mendengar. Padahal pikiran ku sedang ke mana-mana. Aku hanya bahagia. Menatap wajahnya. Melihat dia berbicara. Mendengar suaranya.

Lalu yang ku lihat adalah bantal, kasur, dan lenganku. Juga lemari setengah berpintu. Ini kosanku. Selepas tidur siangku.

Sial: alam bawah sadarku jatuh cinta!

Iklan