Membuntuh suntuk; satu episode serial Dokter House itu aku klik dua kali. Aku bersumpah hanya menonton satu saja. Sejurus setelahnya ku baru sadar, tak perlu bersumpah, itu memang episode terakhir yang kupunya.

Kali ini pesakitannya adalah seorang pecinta buta, -denotatif.

Bagian menarik adalah ketika penanganan terakhir yang bisa dilakukan House dkk adalah dengan memberikan obat dengan peluang tuli permanen. Penanganan terakhir dari kematian.

Saat dokter menceritakan resiko obat tersebut ke si penyakitan.

Lalu si penyakitan menangis. Dia tolak obat itu. Lebih baik mati dari pada jadi buta dan tuli.

Dijawab oleh dokter, “ya kamu bakal mati”.

Lalu dibalas, “ya ini memang lebih buruk dari mati”.

Hm, menarik: “Lebih buruk dari mati”…

Apakah mati lebih baik dari pada hidup dengan kehilangan segalanya?

Ataukah memang benar bisa kita terus hidup sekaligus kehilangan segalanya? Tidak memiiliki apa-apa?

Apa yang akan saya pilih jika berada di posisi si pesakitan? Apa yang saya lakukan jika ternyata dunia dengan segala kejutannya membuat saya harus kehilangan penglihatan dan pendengaran?

Ketika saya kehilangan segalanya apakah saya masih bisa menghargai hidup? Dan tetap bersyukur karenanya?

Apa itu “segalanya”?

Apakah sesuatu yang tidak bisa dicuri dari hidup adalah hidup itu sendiri?

Dan apakah hanya dengan memiliki itu kita menjadi bebas? Kuat? Ketika dititik “terendahpun” kita masih menghargai hidup?

Menarik. Menurut mu?

~ ditulis sembari mendengar The Tourist-nya Radiohead.

Iklan