Kenapa hari ini tema-nya cinta?

Pagi-pagi, masih di kosan, tiba-tiba bertemu dua insan sedang memadu kasih. Si gadis adalah teman lama saya yang satu perguruan sejak SMP sampai kuliah. Si bujang adalah tetangga kosan, temannya teman, meski sebenarnya sudah kenal sejak tahun pertama kuliah. Si bujang memanggil saya ‘baliho man’, terkait kegilaan saya di sebuah acara kampus, zaman muda dulu. Senang melihat mereka bahagia. Sembari terpikir betapa sempit dunia ini.

Siang ini saya harus ke Jakarta. Di perjalanan, lebih tepatnya di kereta. Seekor kupu-kupu hinggap di tangan saya. Hm, sepertinya dia terjebak di kereta. Saya buat kupu-kupu itu nyaman di tangan. Meskipun jadi agak pegal. Saya bahagia. Saya suka binatang. (tumbuhan & alam juga sih, pokoknya saya suka kehidupan). Pertama hinggap, dia jilat-jilat kulit saya. Lidahnya yang panjang dijulur-julurkan. Sensasi gelinya terdeteksi syaraf kulit saya. Untung gelinya tidak sampai membuat tangan saya bergetar. Mungkin sekitar sepuluh kali dia jilat kulit saya. Setelah itu dia diam. Dan saya juga diam. Melihat wajahnya. Mencoba memahami ekspresinya.

Saya lalu duduk. Dan dia masih nyaman di tempatnya. Di sana dia, sejak dari 2-3 stasiun sebelum stasiun Cawang, sampai turun di stasiun sudirman,  sampai naik kopaja, sampai kopaja 19 itu di bilangan jalan-berbentuk-kupu-kupu: Semanggi. Akhirnya dia terbang. Bukan karena guncangan. Bukan karena angin kencang. Mungkin dia sudah bosan. Mungkin dia sudah sampai tujuan. Tidak ada yang tahu. Yang saya tahu, saya bahagia karenanya. Dan ingin bertemu dia lagi.

Halo teman! 🙂

Sore-sore-nya, sehabis rapat dengan tim, di Binus Senayan. Saya spontan terpikir untuk pulang ke Tangerang. Entah kenapa tiba-tiba merasa bahagia, membayangkan orang tua yang bahagia dikejutkan oleh anaknya. Saya biasanya malas pulang. Perjalanan Depok-Tangerang selalu berhasil merusak suasana hati saya. Macet sih, lebih tepatnya.

Tapi kali ini diperjalanan hati saya dipenuhi kebahagiaan.  (Meski tahu kalau hanya bisa mampir sebentar di Tangerang, dan pulang kembali ke Depok malam ini juga. Sepeda saya saya tinggal di halte sendirian, tanpa dititip. Saya tidak mau bermain dengan peluang kehilangan sepeda). Saya tiba-tiba malah tiba-tiba kangen papa. Saya memang dingin kalau bicara di telepon. Kalau bertemu juga cenderung dingin. Hampir tidak pernah kangen-kangenan. Tapi kalau ada momennya, perasaan bisa diperkuat berkali-kali lipat. Nonton Godfather II, saya nangis terisak-isak, teringat cerita penderitaan hidup Papa di masa muda dulu (setelah melihat hidupnya Vito Corleone). Sekarang, di sebuah bus di tol Jakarta-Tangerang. bibir saya bersimpul senyum kecil, dan mata berair. Sadar bahwa tempat cinta adalah di mana dia bisa diwujudkan, dinyatakan, dilakukan.

Sepedanya masih ada

Asyik, sepedanya masih ada.

Iklan