Orang tua saya pernah bilang saya orang yang sombong, congak, dan angkuh. Saya tidak setuju, saya lebih suka menyebutnya, PD-berlebih. Tapi itu dulu, setelah hari ini kena pukul berkali-kali oleh sifat itu. Baru mengerti saya.

Kejadian hari ini sungguh ajaib hingga saya memutuskan menulisnya di sini.

Hari ini ini saya harus pergi ke TEDx Jakarta. Lelah sebenarnya, baru tidur empat jam, itupun mulai tidur subuh. Tapi apalah  daya. Saya tidak mau nama saya didaftarhitamkan karena menyisakan bangku kosong yang sia-sia. Sekedar info, tiket TEDx lubes habis dalam waktu 3 menit. Banyak yang sedih karena tidak kebagian tiket. Mereka akan lebih sedih lagi kalau tahu saya ternyata tidak jadi datang. (Jadi ingat orang-orang yang meninggalkan hasil positif ujian PTN)

Acaranya jam 10 dan saya agak telat berangkat dari kosan. Cukup bersejarah, karena ini pertama kali saya ke suatu tempat yang tidak saya tahu rutenya, tanpa minta saran, hanya berbekal GPS dan GMap dalam genggaman.

Dan hal lucu pun itu di mulai. Di sisi keberangkatan, saya salah turun sekali. Dan parahnya, saya melanjutkannya dengan berjalan-berlari saat sebenarnya bisa cukup sekali naik metromini. Dan itu cukup jauh.

Pulangnya lebih menyedihkan lagi. Karena malas mengunggu trayek yang sudah pasti, saya ambil resiko untuk asal naik. Asal naik-naik bus ke Bogor, cuma karena asumsi bahwa bus ke Bogor di Jakarta Selatan pasti lewat Depok. Asumsi yang baru diketahui salah 15 menit setelahnya. Turun dari bus tersebut tetap saja tidak beres. Dikira bisa sampai dengan satu angkot ke Depok (saya terlalu cepat turun dari bus Bogor tersebut). Ternyata harus dua kali naik angkot. Tapi malah jadinya tiga kali naik angkot.

Entah kebetulan yang terlalu muskil untuk terjadi. Saya berangkat naik turun angkutan umum seperti ini karena malu meminta nebeng sama teman saya di hari-hari sebelumnya.

Ya mama papa, saya sombong, terlalu-PD, malu bertanya, tidak sabar.

Kadang kita memang perlu ditampar,
untuk sadar.

Iklan