Dulu ku kira seseorang dinilai dari berapa ia mampu membawa dirinya bermanfaat bagi ekosistem di sekitarnya. Bukan posisi politik mu. Atau permainan lempar dadu genetika, atau takdir, yang kau terima dari orang tua mu; kecerdasan, kecantikan, kasta sosial, modal.

Lalu ku ditampar sadar. Oleh lembar di majalah pagi ini. Di warung fotokopi bernama Senyum. Tercetak di atasnya sebuah foto: Bilik kecil kumuh milik nenek yang tak kalah kumuh. Terbaring menatap kosong pada panci di dinding, atau pada dinding. Bangku kecil pengganjal kaki akibat kasur, –lebih tepatnya papan, yang kurang panjang. Tertulis;

“LUMPUH. Hafila Daeng Nginga hanya bisa berbaring dan duduk di atas kasur lecek di depan kamar mandi di Bontoala, Makassar, Kamis pekan lalu. Janda 82 tahun ini sudah 3 tahun menempati ruangan berukuran 3 x 2 meter milik seorang warga yang menampungnya. Hafila tak berdaya akibat lumpuh”.

Mungkin manusia bukanlah juga tentang berapa usaha mereka untuk menebar manfaat pada sekitar. Jika iya, tentu jadi tidak bernilai; Tarzan, Mowgli, atau manusia terakhir yang hidup di Bumi ini.

Halifa telah menyadarkan aku. Mungkin hidup, adalah tentang bagaimana, menghargai kehidupan itu sendiri.

image

Iklan