Ketika aku sadar betapa sampahnya diriku dalam sebuah kegiatan yang disebut pembiasaan; Mencoba mengenalkan sesuatu yang baru ke dalam himpunan kegiatan-kegiatan harianku. Melihat apakah mereka bisa akur dan hidup tentram bersama. Mengalirkannya ke dalam darah yang mengisi seluruh tubuhku. Membenamkannya dalam rantai DNA sehingga setiap darah-darah baruku selalu sudah otomatis terisi olehnya; sebuah kegiatan rutin baru yang katanya baik untuk kesehatan.

Orang-orang bilang; butuh 21 hari atau 30 hari, lakukan secara konsisten dan kau tanpa sadar kau telah melewati proses pembiasaan. Pernah ku bilang aku ragu akan hal itu. Manusia tidak bisa dikuantifikasi seberani itu!  Terlalu acak diri mereka dan pengalaman-pengalaman yang mereka lalui. Terlalu banyak variabel yang bisa bermain menawarkan kemungkinan baru.

Lalu aku berhenti. Sadar bahwa itu hanya koar-koar argumen congak ku yang bahkan gagal konsisten untuk sampai 21 hari. Terlalu banyak emosi yang ku taruh di sini.

Untungnya aku ingat sesuatu yang kawan ku pernah bilang; Peradaban manusia bisa sampai sejauh ini meninggalkan makhluk-makhluk lain di muka bumi semua karena 3 hal. 1) Mereka mampu berhenti sejenak dan merasakan kalau ada yang salah. 2) Mereka akan cari cara baru agar ‘si salah’ itu bisa pergi. 3) Jika masih gagal, ulangi nomor 2.  Nomor satu sudah ku kerjakan, bahkan dengan ditambah sedikit bumbu emosi. Nomor dua ini yang sekali lagi harus kulalui.

Terima kasih pada kawan yang membawa sebuah rangka pikir baru untuk fenomena ini, hingga aku bisa dengan tentram bertanya; Hal baru apa bisa aku lakukan agar aku berhasil di kesempatan selanjutnya?

Lalu kembali terngiang kalimat bijak klasik; “Lakukan sesuatu bersama cinta, maka kau akan mengingatnya”. Hey! Kau kira aku melakukannya dengan tanpa cinta? Sibuk-sibuk ku seperti ini tanpa ada yang menyuruh. Kau tahu itu tidak? Semua adalah aku mencintai sepenuh hati sebuah kegiatan bernama; pengembangan diri. Aku ingin maju berkembang. Jadi lebih baik dari yang aku kemarin. Aku cinta keinginan itu. Aku cinta kegiatan itu.

Dari cinta itulah, salah satunya, kegiatan mencatat hari-hari ku ini muncul. Aku sadar aku orang yang pikun. Kumpulan jejaring sel syaraf di kepalaku ini entah mengapa kesulitan untuk  mengingat sesuatu di masa lampau. Aku setidaknya ingin melatih meringankan gejala tersebut dengan rutin mencoba mengingat dan menuliskan kembali masa lampau, yang agar lebih mudah, tidak terlalu lampau.

Lalu muncul masalah berikutnya. Aku sendiri kesulitan merutinkan sesuatu. Tepatnya mungkin sesuatu yang kurang aku cintai. Lalu kembali terngiang kalimat bijak klasik; “Lakukan sesuatu bersama cinta, maka kau akan mengingatnya”. Hey! Devaju? Tidak sepertinya, ini untuk hal lain. Setidaknya aku belajar sesuatu. Memiliki pangkal motivasi cinta tidak lah cukup. Kita harus menyelam ke dasar detail. Mengecek apakah masih ada cukup cinta untuk melakukannya; setiap detail satu-satu pekerjaan tersebut.

Setidaknya aku tahu aku menemukan gaya menulis baru. Sebuah puisi deklamasi. Puisi yang ditulis memang untuk dideklamasikan. Ya, salah satu contohnya adalah yang kau tonton sekarang ini.

Setiap hari, kuharap akan selalu ada cerita yang menarik untuk dipuisikan. Sehingga akan terbenam dalam rantai DNA ku, bahwa selalu ada yang hal yang bisa ku ingat ulang dan tuliskan. Setiap hari.

Iklan