Rencananya

Seperti biasa. Saya ingin fokus mengerjakan produk saya. Juga menunaikan kewajiban saya. (Sehingga bisa akhirnya fokus pada produk saya).

Apapun yang terjadi di luar kontrol saya nanti, saya percaya itu yang terbaik buat saya.

Kronologis

  • Bangun sekitar pukul empat pagi. (agak lupa untuk yang ini)
  • Mengisi waktu menulis blog.
  • Keasyikan, terlalu ngepas berangkat ke kampus.
  • Alhasil, harus kehilangan kelas KoMas lagi karena telat tidak sampai satu menit. Apapun itu, saya saya memang tidak suka aturan, tapi saya lebih tidak suka lagi ketidak-konsistenan.
  • Langsung turun ke lab, kirim email untuk minta janji bertemu. Ingin bahas sesuatu sekaligus sebagai ganti tidak bisa bertemu Pak Didit di kelas :).
  • Mau lanjut ngoding di lab laptop, ngantuk, ngupi dulu di kantin, dan seperti biasa bercengkrama dan bercanda dengan orang kantin.
  • Oke, ngantuk hilang. Lanjut balik lagi ke lab laptop.
  • Tapi sejenak berhenti dan berfikir untuk mengerjakan PR ERP di lab komputer.
  • Sebentar mengerjakan ternyata sistemnya bermasalah. Ini diluar kendali saya. Sesudah lapor di forum kampus.
  • Kembali ke lab laptop. Ngoding lagi.
  • Menjelang waktu perjanjian untuk bertemu dengan Pak Didit, nitip laptop dan berangkat lebih awal. Tidak mau telat lagi.
  • Cerita banyak dengan pak Didit di kantor.
  • Kembali ke lab. Ngoding.
  • Nitip laptop untuk mondar mandir dua kuliah secara paralel (yang satu jadwal kuliah pengganti).
  • Balik ke lab.
  • (lupa T_T, di lab doang kayaknya, oh iya, sekarang sudah ngodingnya sudah di level inti, dah ga tampilan di localhost doang. asik! )
  • Kalau tidak salah pulang selepas magrib.
  • Cukup lelah, malah nonton 2 episode Big Bang Theory.
  • Persiapan tidur; masak, makan, mandi, olah raga.
  • Dan akhirnya, intim dengan kasur.

Hal Menarik

Tolong ngomong kalau ada masalah…

Di salah satu bagian di hari ini, saya menghampiri seorang teman. Dulu sempat akrab. Lalu semua berubah ketika dia sadar saya bukan tempat curhat yang baik. Saya tidak manusiawi, maksudnya tidak bisa memposisikan diri saya sebagai manusia lain tempat dia bercerita. Saya akui, habis kasusnya menarik sekali. Saya punya ketertarikan amat dahsyat tentang manusia. Saya tahu saya cenderung sering memperlakukan orang-yang-kebetulan-berkasus-menarik sebagai objek studi, makanan lezat bagi rasa penasaran saya. Saya tahu ini salah. Harus lebih bisa mengontrol diri, khususnya saat yang-menarik muncul lagi, dan yang menarik itu adalah manusia, yang tentunya ingin diperlakukan manusiawi.

Jadi ketika saya hampiri dan ajak bicara, responnya dingin. Tidak lama kemudian undur diri. Mungkin tidak nyaman berada dekat saya. Mungkin dia sedang ada keperluan, sedang banyak pikiran.

Sepertinya saya berpikiran negatif ya? Ampuni saya ya Tuhan. Saya coba tutup kasus ini dan terima dugaan positif saya.

Tapi kejadian ini memberikan pandangan baru. Bagaimana nanti kalau suatu saat saya yang berada di posisi orang yang menggantung masalah? Yang diam ketika ada masalah dengan seseorang atau beberapa orang? Betapa mengganggunya kita ketika harus sering menahan dugaan-dugaan negatif dari muncul hati kecil kita? (Tentu di sisi lain, harus belajar untuk lebih kuat berfikir positif tentunya).

Nasihat dari Pak Didit

Banyak diskusinya menarik terjadi. Tapi hal yang berkesan adalah kembali teringatnya saya akan nasihat;

“Ketika kita bisa melihat persamaan di antara kita, kenapa kita harus fokus pada perbedaan?”

Kulit kita boleh berbeda. Asal kita. Pemikiran kita. Apalagi kepercayaan kita.

Tapi mungkin kita sama-sama suka musik Jazz. Mungkin kita sama-sama punya energi yang sama untuk beraksi membuat dunia ini lebih baik. Atau mungkin kita sama-sama menyukai hal-hal kriminal? (bisa negatif juga lo…)

Ketika kita fokus pada perbedaan. Kita akan memandang kita dan mereka berbeda. Ketika hal itu terjadi, akan terhampar pemisah, dan masalah kecil bisa membesar menjadi perselisihan.

Ketika kita fokus pada persamaan. Akan muncul peluang untuk bersinergi. Khususnya pada hal yang sama tersebut. Dengan bersinergi, interaksi kita dengan hal yang kita sukai sebelumnya akan lebih kuat, juga keluarannya ke masyarakat.

Kebijaksanaan lama yang kadang suka terlupa. Terima kasih pak! Sudah mengingatkan! 😀

 

Iklan