21 Februari? Argh, tak ada yang sanggup ku ingat…

22 Februari? Meskipun gagal secara kronologis mengingat, banyak hal menarik hari ini…

Siangnya lebih ke perjalanan emosional, spiritual, dan motivasional. Selepas kelas KoMas bersama Chilman dan Yunus kita ngobrol bareng di selasar spot lantai 5. Setelah itu sesi sharing-sharingnya juga lanjut di MUI. Kali ini pesertanya lebih ramai. Juga ketika kita berkumpul, ada senior yang tertarik untuk ikut nimbrung.

Sharing di MUI

Sesi berbagi selepas shalat bersama bung Hanif, dkk

Bang Hanif namanya, mahasiswa angkatan 2005 ini punya minat yang besar dibidang pendidikan, perkuliahan, mahasiswa, dan kehidupan. Sedang dalam jalan merintis karir akademik di FASILKOM. Sayang sekali, aku lupa mencatat semua nasihat yang dia bagi ke kita-kita. Tapi kurang lebih adalah tentang esensi dari tahun akhir mahasiswa dan hubungannya ke skripsi atau proyek-proyek. Dan terakhir dia cerita tentang angkatan pertama FASILKOM yang ujug-ujug datang dari dunia industri untuk mengabdi menjadi asisten dosen. Hal ini cukup jarang terjadi, dan kata dia menghebohkan dunia dosen, yang notabennya adalah yunior-yunior jauh dari yang bersangkutan. Kata bang Hanif, “Naif mahasiswa yang teriak-teriak tentang perubahaan di medan demonstrasi. Ini baru aksi perubahan!”

Sempat ngobrol juga sama Tembra. Wah, ternyata dia juga ingin melakukan sesuatu yang ‘wah’ sebelum lulus. Ternyata banyak yang bercita-cita seperti itu. Ayo Tembra, saling jaga semangat kita.

Jam 2. Pergi ke lab lantai 6 untuk kelas ERP. Ternyata hanya dihuni dua orang asdos. Aku masuk. Ngobrol-ngobrol lama sama mereka. Sempat bingung kenapa pada telat semua. Setelah satu jam, ternyata kelas dipindah ke lab bawah. Para asdos luput dikirim email dari dosen terkait pemindahaan kelas, aku sendiri luput mendengar pemberitaan tentang ganti kelas. (Ayo! Belajar Fokus! Belajar Konsentrasi!)

Hal lucu kedua adalah ketika rapat tim komas jam 4 sore. Lucu karena ya.. seperti biasa, ada saja yang bisa aku dan teman-teman jadikan bahan becandaan kalau sudah berkumpul bersama M Nanda Kurniawan, manusia ajaib dari Depok. Ekspresi penuh semangatnya bisa dilihat di foto di bawah ini.

Tim komas di perpus

Memperhatikan Nandax sang Obelix yang 24 jam sehari, 7 hari seminggu penuh semangat! (searah jarum jam dari pojok kiri; penulis, Kharda, Nanda, Chilman, Yunus)

23 Februari? Ah, ingat, tapi hanya sepotong-sepotong.

Jam 7 pagi. Aku baru mengerjakan PR untuk jam 8 nanti. Beberapa soal sudah dipikirkan sebelumnya. Kangen juga bermain-main dengan konsep dan rumus Fisika. Setelah itu ingat beberapa memori di kelas Fisika.

Ingat juga memori di kelas EAI di kelas lantai 6.

Juga malam saat ingin pulang ke kosan. Di lapangan parkir melihat si Kharda teman satu tim sedang berkutat dengan laptop. Di tempat yang kurang biasa. Jelas dia sedang dikejar waktu tenggat kelompok kita dalam mengumpulkan bahan tugas. Mahasiswa FASILKOM memang pejuang!

Kharda beraksi!

Candid Photo: Kharda beraksi! (Nanda di belakang)

Dan selain itu… zonk!

24 Februari? 

Hari jumat. Wah, seru! Sore hari mengikuti acara seminar Startup yang dihadiri oleh Danny Santoso of SixReps, Rhein of StartupBisnis, Elisa of Batavia Incubator, Azwin of AdaDiskon.com. Selepas acara tersebut ngobrol banyak dengan Rhein dan Rezqi Ristek, membicarakan apa yang sebenarnya aku butuhkan dari ekosistem kampus agar eksekusi proyek ku jadi lebih lancar. Juga di acara tersebut, teman tercetus ide untuk sepedaan besok pagi.

25 Februari? Kalau ini sepertinya masih agak hangat di otak…

Bangun jam setengah 6. Siap-siap lalu meluncur ke MUI, tempat kita janjian jam 6 di sana. Aku yang pertama. Tidak lama mengunggu. Ada Ibnu Sina datang. Lalu yang punya acara, Bellalita datang. Lalu menunggu teman Bella yang cuma bisa ikut satu putaran nantinya. Setelah itu kita bertiga memutuskan untuk pergi ke pasar kemiri, yah.. kira-kira 15-20 menit perjalanan dengan sepeda. Di sana aku belanja sayur, dan kita bertiga patungan beli pisang setandan, yang kata salah satu orang pasar, harganya kemahalan. Maklum, penampakan kita jelas-jelas terlihat seperti mahasiswa lugu yang habis olah raga pagi lalu spontan pergi ke pasar, dan spontan belanja! Hehehe…. Di perjalanan pulang kita makan bubur ayam dan Bella kasih ide untuk bikin komunitas nggowes di UI. Hm, sepertinya akan menarik asal konvoinya tidak ribet dan setiap minggu selalu mencoba trek baru…

Spontan muncul ide untuk menanam daun bawang yang dibeli dari pasar. Hal ini dikarenakan suka lupa kalau punya sayur yang mengganggur di kulkas. Kan lebih asik kalau tempat ‘penyimpanan’ sayurnya ada di ladang yang langsung terlihat mata. Lebih organik, praktis, dan tanpa biaya! Alhasil, pulang, bukannya istirahat malah lanjut membersihkan kebun petak tercinta di kosan bersama Ibunya Imam yang masih di Jabodetabek. Lumayan, dapat tips-tips berladang langsung dari pakarnya.

Setelah tuntas... (sebelumnya; seperti rumput2 liar sedang nonton konser)

Siangnya. Langsung latihan Biola perdana di komunitas Autodidak Violin Club di perpus pusat. Asiiik banget! Dah lama soalnya ga ngulik-ngulik nada di keyboard, juga gitar… Dan sekarang, dahaga itu hilang setelah diberi instrumen biola cuma-cuma dari bung Mirza yang pensiun bermusik, plus diajarkan cara menggunakannya oleh teman-teman yang lebih pakar. (dasar piano dan gitar jauh lebih mudah!)

Pivot

Wah, sepertinya masih jauh untuk bisa mengingat kronologis kejadian-kejadian di hari yang lalu-lalu.

Tapi aktivitas ini ternyata menyenangkan. Telah terpikir sejak kemarin-kemarin. Sepertinya seru juga untuk merekam hal-hal menarik dari hidup kita sehari-hari di server internet. Server ini (kemungkinan besar) akan abadi. Menjadi jejak yang mungkin akan dilihat oleh keturunan-keturunan kita di masa yang akan datang. Jangan bayangkan hal-hal yang besar. Bisa ditertawakan anak cucu karena kebodohan-kebodohan kita dulu saja sudah hal yang menyenangkan sebenarnya.  Syukur-syukur ada pelajaran yang bisa diambil.

Kita, sebagai generasi internet pertama harusnya bersyukur akan hal ini dan memanfaatkannya dengan baik. Bukankah peradaban kita sendiri ingin sekarang ingin mengetahui seluk beluk manusia pertama yang mengenal baca tulis. Bagaimana mereka berfikir? Apakah mereka sadar bahwa mereka adalah gerbang dari revolusi besar-besaran umat manusia? Serta banyak pertanyaan lainnya.

Mungkin itu juga yang orang-orang berabad-abad ke depan akan tanyakan. Dan mungkin keturunan-keturunanku akan  mencari artefak salah satu nenek moyangnya, mungkin salah satunya adalah memoriku.

Yup, kembali lagi ke Pivot yang akan dilakukan. Salah satu alasan pivot sebenarnya sudah disinggung; mengingat dan menulis tentang hal menarik itu menyenangkan, sebaliknya agak susah dan membosankan untuk yang sesuatu yang tidak menarik. Masalahnya, justru kegiatan ini dimulai karena ingin meningkatkan kemampuan untuk fokus, menyimpan masa masa sekarang ke otak dan memanggil memori-memori di masa lampau. Kalau mengerjakan yang memang sudah gampang, kemajuan apa yang akan dicapai? Cukup sudah otak ku yang lemah sehingga suka menyusahkan orang ini. Sedang berjuang dalam perjalanan panjang untuk meninggalkan Rizky Syaiful yang linglung dulu.

Solusi menang sama menang kembali bisa dicapai;

Pivot pertama:
Blog ini menambahkan fungsinya, yang tadinya hanya membahas secara kronologis dan kering kegiatan penulis di hari lampau, sekarang mencoba untuk menambahkan bumbu-bumbu cerita dan lebih mengeksplorasi hal menarik, tapi di tempat yang terpisah. Jadi nantinya akan ada dua buah bagian; Kronologi & Hal-hal menarik.

Pivot tidak berhenti sampai disini. Mama sempat kasih saran untuk juga melakukan hal sama untuk rencana-rencana yang akan dilakukan esok hari. Waw, ide yang bagus Ma! 🙂 Jadi kita bisa membandingkan apa yang kita rencanakan dengan apa yang berhasil kita lakukan. Mudah-mudahan jadi dieksekusi untuk tanggal 27 besok.

Pivot kedua:
Ditambahkan lagi satu bagian di blog ini; Rencananya. Di bagian tersebut dibahas rencana yang sebelumnya dibuat untuk hari ini. Tentu ini diisi sebelum hari tersebut dimulai.

Ada lagi hal kecil. Sepertinya akan berhenti menggunakan kata ganti pertama ‘aku’. Hal ini dikarenakan kedepannya mungkin akan menulis menggunakan ponsel yang berteknologi Swype. Lebih mudah di Swype untuk memisahkan kata-kata, lebih mudah ‘kata’ + ‘ saya’, daripada ‘kata’ + ‘ku’.

Pivot ketiga:
Tak ada lagi ‘aku’.

Iklan