Hari dimulai dengan bangun di waktu subuh setelah sebelumya tidur hanya beberapa jam secara terpisah di malam hari. Mungkin secara total hanya tiga sampai empat jam. Teman ada yang mengajak untuk bersepeda di minggu pagi UI. Menarik. Saya mungkin sudah hampir sebulan membeli sepeda namun belum pernah melakukan ini.

Kita janji jam 6 di MUI. Saya yang bangun 5.30 dan berangkat dari kosan kira-kira 5.50. Sedikit merasa telat. Karena malamnya koneksi internet 3G bemasalah, saya bawa laptop saat berolahraga untuk setelahnya membayar hutang kerja. Sampai di MUI, teman-teman yang mengajak saya tidak bisa terindetifikasi lokasinya. Ubah haluan.

Entah mengapa dari MUI, secara alami mengowes diri ke arah FASILKOM, mungkin karena itu kampus saya. Sesaat sebelum menuju FASILKOM, akhirnya memutuskan untuk menuju ke tempat yang sudah jarang saya tempuh setelah bercerai dengan sepeda kuning gratis UI; daerah sekitar perpustaan lama. Masuk ke jalur sepeda di daerah tersebut, baru setelahnya memutuskan untuk pergi ke arah lapangan dekat rektorat. Berjalan tanpa rencana adalah hal yang menyenangkan sering kali.

Benar saja, para olahragawan-olahragawan dadakan Depok seperti saya ini mulai terlihat. Di daerah putaran dekat rektorat ini setidaknya ada belasan orang. Lima sampai sepuluh orang sedang berlari mengelilingi putaran tersebut. Terbesit ide untuk ikut berputar. Sebenarnya ragu apakah para pelari itu akan terganggu oleh pesepeda ini, tapi setidaknya langsung aksi saja. Kadang, lebih baik minta maaf dari pada minta izin.

Sekali lagi, benar saja, mereka sepertinya tidak hirau akan salipan saya yang berkali-kali. Putaran ini memicu rasa penasaran. Apakah jurus kontrol-sepeda-tanpa-sentuh-setang saya bisa diterapkan di medan ini. Sekali lagi, langsung aksi saja. Dan ya, ternyata mudah. Setang saya lepas dan tanpa sadar satu lap sudah ditempuh tanpa menyentuh setang. Untungnya, tidak seperti di banyak daerah UI, gradien tanah di putaran ini cenderung sama, jadi tidak perlu ubah-ubah gigi sepeda.

Kali ini saya mulai dihiraukan. Beberapa yang duduk-duduk melihat aksi saya dengan wajah tanpa ekspresi. Ekspresi para pelari yang saya salip tidak teridentifikasi. Meski ada pelari kecil yang berhenti dan melihat ke belakang ke arah saya, dengan wajah antara heran dan takjub khas anak-anak. Sudah mulai merasa mengganggu dan kelelahan, saya menepi dan berbaring melihat langit, mengambil nafas panjang.

Lapar. Saya lanjutkan perjalanan ke Pondok Cina, mencari nasi uduk dan air hangat untuk menyeduh Milo 3 in 1 yang saya bawa. Sekembalinya, saya melihat pemandangan yang menarik di antara Balairung dan gedung seni, lima orang sedang senam silat gerak lambat. Sepertinya Tai Chi. Musik Cina klasik berbunyi pelan dari Tape berkaset pita bertenaga baterai. Bapak berwajah jawa berumur 50-60 tahun memimpin gerakan empat orang di belakangnya, beberapa terlihat mahir, beberapa pemula, salah satunya Ibu-ibu dari ras Cina. Ilmu memang tidak mengenal batas.

Mulanya hanya menonton sambil meminum kopi, –mengganjal tidur saya yang kurang malam sebelumnya. Akhirnya menggerakan badan untuk bergabung ke barisan, langsung meniru gerakan yang dicontohkan, dan Wow. Tai Chi menguras keringat lebih dari bersepeda belasan lap. Gerakan yang mengalir, nafas dan kuda-kuda yang harus diatur, pikiran yang damai, semua menjadi satu dalam Tai Chi. Saya ingin melakukan ini lagi minggu depan.

Selepas sesi jurus Tai Chi bersama, saya berbincang-bincang dengan para pesenam. Memastikan bahwa yang saya lihat dan tiru ini benar bernama Tai Chi. Mendapat informasi bahwa Tai Chi sebenarnya adalah teknik bela diri. Bahwa jurus 24 bahkan bisa memeras keringat lebih dari berlari. Dan banyak obrolan lain.

Sesi selanjutnya saya mengerjakan Testimoo di kantin Fasilkom, yang lagi-lagi, diubah haluan tampilan grafisnya. Pulang Sore. Tidur. Bangun magrib lalu melanjutkan pengerjaan. Yang sayangnya, tak lama kemudian terdistraksi oleh permintaan tolong Imam untuk sedikit merapihkan rambutnya. Obesesi pada detail dan kesempurnaan muncul. Tak kurang dua jam habis untuk pengalaman pertama saya mencukur rambut orang. Ditambah dengan sesi masak, makan, dan bersenda gurau bersama penghuni kosan lain, saya malah batal berkerja. Jam setengah dua belas, saya kembali tidur malam.

Iklan