Aku berani bertaruh hampir semua orang sempat bertanya; “Kenapa ‘aku-yang-ini’ terpilih untuk hidup?”, “Ada kemungkinan aku terlahir seperti saudara-saudara kandungku, atau campurannya. Tapi aku, adalah aku yang kulihat ketika bercermin.”

. . .

Bagi kalian yang percaya gen memainkan peranan penting. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan sedikit yang kupelajari di Biologi SMA. Setiap empat dari  tiga ratus sampai lima ratus juta sel sperma ayahmu yang menyebrang itu, berasal dari spermatosit. Di mana semua spermatosit yang pernah ada dalam buah zakar laki-laki memiliki DNA yang sama dengan sel di dinding langit-langit mulut mereka. Mereka semua identik.

Lalu mereka dipecah dalam fase yang biasa kita sebut meiosis. Segalanya menjadi tidak sama. Informasi DNA, yang setara dengan 725 MB data sekeping CD yang sudah kita lupakan itu, diacak.

Proses yang serupa terjadi dengan sel ovum ibumu. Yang keluar tiap bulan, setia menunggu di tuba falopi, itu tidak sama, tidak pernah sama.

Keacakan bertemu dengan keacakan, dalam proses yang acak. Tidak ada yang tahu ibumu akan bersenggama dengan ayahmu saat mereka mengalami masa kecil mereka. Siapa yang bisa tahu, mana dari satu dari tiga ratus juta itu, yang berhasil bertemu dengan, satu,
yang mendapat giliran bulan ini.

Kita semua berdiri di atas keacakan yang dahsyat.

. . .

Bagi mereka yang percaya pengalaman hidup dan asuhan memegang peranan penting. Memori tentang hidupmu sendiri mungkin adalah bukti yang jelas.

. . .

Pada akhirnya, meskipun besar kemungkinan kita yang seperti ini tidak ada,
kita ada.

Berdiri di sini, menikmati momen hidup kita masing-masing.

Depok, 31 Januari 2012.
Di buat ketika penulis menikmati salah satu momen hidup favoritnya. Mengerjakan produk aplikasi web-nya (Testimoo) di malam hari setelah sebelumnya tidur di awal malam. 

Iklan