Hari ini aku sakit. Flu. Cukup parah sehingga hanya bisa bolak balik antara kasur dan meja kerja demi menghemat energi. Di depan laptop-pun tidak banyak tumpukan pekerjaan yang bisa dicicil. Agak sulit berkonsentrasi dan menjaga flow dengan hidung bocor.

Baru bangun tidur, kerja susah, bingung mau melakukan apa, kuingat pekerjaan yang selalu tertunda; menerima permintaan teman di Facebook. 285 akun Facebook menunggu untuk disetujui. Ada beberapa alasan kenapa malas sekali melakukan ini;

  1. Bukan pengkonsumsi “News Feed”
    Cukup jelas, status di Facebook kebanyakan curhatan-curhatan hati yang untuk sesaat menarik dibaca, dikomentari, namun beberapa jam kemudian memunculkan sesuatu dalam pikiran, “Apa ini benar-benar penting, benar-benar berguna?”.Ingat masa ketika memutuskan untuk meng-‘unfriend’ beberapa orang karena fakta bahwa tidak terlalu kenal secara personal membuat tulisan-tulisan curhatan mereka semakin jarang berarti bagi saya. (Masa di mana algoritma pemfilteran News Feed belum terlalu sakti). Kupikir Facebook hanyalah tentang News Feed, sesuatu yang tidak terlalu kuperhatikan, jadi menambah teman tidak terlalu berarti.
  2. Butuh waktu: sebelum approve, harus cek mutual friend dan liat profilnya terlebih dahulu
    Pertama, tidak mau berteman dengan yang tidak kenal. Bukannya tidak mau informasiku di Facebook tidak diketahui publik. Tapi tidak enak hati aja kalau ketemu di dunia nyata dengan salah satu teman Facebook tapi kita tidak kenal dia, apa lagi aku punya masalah mengingat nama orang. Kedua, bisa jadi akun tersebut akun palsu. Mengapprove sendiriĀ adalah pekerjaan berefek bola salju. Ketika sekali Ia ditunda, semakin besar alasan untuk menunda dikemudian kesempatan.

Hhmm,, tapi baruku sadari, apa salahnya mengapresiasi teman kita di dunia nyata dengan mengapprove request Facebooknya? Bukankah kita jadi bahagia jika kita berada di posisinya? Bukankah dengan meminta menjadi teman, mereka telah berharap untuk kita agar segera menyetujui? Oke hal tersebut dianggap tidak terlalu membawa manfaat, tapi ongkosnya juga amat kecil, hanya beberapa klik dan lihat-lihat, tinggal dicueki saja toh News Feed tersebut? Toh yang menjaga aku tetap di Facebook (selain salah satu channel komunikasi saat kepepet ke orang-orang yang tidakku tahu emailnya) adalah fitur Timeline yang amat cantik & berguna.

Facebook menurutku punya peluang besar untuk membuat hidup ini jadi lebih dan lebih indah. Bila seluruh penggunanya merubah pola pikirnya tentang status di Facebook. Tapi bukankah kita tidak punya daya untuk menyuruh seluruh pengguna Facebook untuk hanya menulis sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang? Untuk apa menghiraukan sesuatu yang di luar kontrol kita?

Untuk apa menyalahi virus influenza sialan ini? Kenapa kita tidak sesali kita yang masih kurang menjaga vitalitas tubuh?

Iklan