ratu bilqisAutis, sebuah kata yang sering disalahgunakan oleh kawula muda (baca: ABG labil) Jabodetabek beberapa tahun kebelakang kembali naik daun akhir-akhir ini. Ratu Bilqis (7 thn)-lah yang menjadi pemicunya. Media ramai-ramai memberitakan kondisi bocah autis yang menyedihkan itu.

Sungguh menyedihkan kondisi Bilqis seperti yang tertulis di artikel Antara di atas (lihat tautan). Penulis berhipotesa. kondisi Bilqis diperparah oleh kondisi rumah tangga orang tuanya yang tidak harmonis. Di sisi lain, kunci kesembuhan autisme adalah kesabaran untuk terus berkomunikasi penderita. Bahkan ‘kesabaran’ disini berada dalam lingkup tahunan dan dengan tingkat intesifitas yang tinggi. Hal tersebut hanya mungkin dilakukan oleh orang yang mencintai dan menerima penderita secara penuh; kedua orang tua penderita.

Titik inilah yang ingin penulis tekankan. Memiliki anak penderita autisme setidaknya memiliki sisi positif yang bisa diambil. Hal tersebut adalah; ikatan batin antar anggota keluarga yang tinggi.  Hal-hal yang menjadi argumennya adalah sebagai berikut;

  • Waktu kontak keluarga amat tinggi
    Jam-jam yang dilalui bersama untuk menerapi anak/saudara tercinta tentu akan meningkatkan ikatan batin keluarga.

Penulis berbicara seperti ini karena sudah melihat dengan mata kepala sendiri. Sungguh indah memiliki keluarga dengan ikatan batin yang tinggi.
*ingin menangis*.

Iklan