Ada banyak hal luar biasa yang saya dapatkan dari Indosat Wireless Innovassion Contest 2009 kemarin. Mungkin lebih dari apa yang anda bayangkan tentang seorang peraih juara 4 patut dapatkan. Ya, hal tak terduga tersebut adalah obrolan-obrolan langka yang saya dapat dari grand finalis lain, para praktisi TI muda.

Mungkin saya terlalu berlebihan. Tapi memang patutlah seseorang merasa berlebihan jika dia adalah seorang mahasiswa sarjana semester 3 yang mengikuti kompetisi untuk umum. Bertemu langsung dengan para pelaku dunia industri akan selalu menggairahkan bagi siapapun yang duduk di bangku kuliah. Tak lupa ada faktor lain yang membuat saya mungkin terlihat berlebihan; pengorbanan. Lomba inovasi sudah merupakan obsesi saya sejak SMA dan saya sudah mengorbankan banyak hal untuk lomba ini. Bolos kuliah dan mengundur-undur pengerjaan tugas acap kali saya lakukan. Saya ingat sekali kebingungan saya untuk memilih Tugas 1 SDA atau Realtime Teaching Evaluator (selanjutnya disebut Evalung). Padahal, jika dihitung-hitung, proses pengerjaan Evalung sebenarnya bisa dihabiskan dalam waktu sehari. Tentu titik terberat saya adalah proses perkenalan. Saya harus berkenalan dengan JavaME ( + lingkungan pengerjaannya di Netbeans ) sekaligus PHP, saat dua hal itu masih nol besar di otak saya.

Kembali ke topik utama. Saya akan berbagi cerita-cerita hebat teman-teman di sana kepada pembaca semua. Sayang, karena keterbatasan waktu, saya hanya bisa ‘mengelaborasi’ dua orang saja. Mudah-mudahan grand-finalis lainnya bisa saya kenal lebih dekat lewat dunia maya.

Sandy M Colondam

Ini salah saru lelaki hebat dari Minang. Dua kali berturut-turut juara 1 di salah satu kategori di IWIC 2008 dan 2009. Di IWIC 2008 dia masih terdaftar sebagai mahasiswa di Binus, namun kini dia seorang manajer proyek di perusahaan yang banyak menyediakan konten HP untuk operator-operator selular Indonesia. Beliau tipikal profesional muda yang pandai bergaul. Saya langsung memperlihatkan antusiasme saya karena saya pikir orang seperti beliau menyenanginya.

Ada cerita yang amat menarik. Beliau sampai saat ini belum mengambil ijazahnya, hanya karena kartu Binus beliau hilang. Setelah tersenyum melihat muka ‘shock’ saya, beliau bercerita; “Praktisi TI itu gak butuh ijazah kalau dia udah punya pengalaman di bidang Industri TI. Gak bakal ditanyain tu, lu lulus dari mana. IPK lu berapa. Yang ditanyain itu, lu dah pernah ngapain aja. Kadang pas wawancara, lu malah disuruh bawa program yang lu bikin”.

Mendengarkan ‘doktrin’ beliau, saya langsung ingat omongan Fuady Rosma Hidayat; “Pas temen-temen gue lagi sibuk ngejar ilmu di kuliah, gue malah sibuk belajar hal yang gak dipelajarin di kuliah”, juga obrolan antara pak Bob Hardian, pak Irwan dan saya di Bandung; “UI itu gak maju-maju karena jiwa ‘ngoprek’-nya kurang, settingan-nya selalu untuk jadi pegawai”. Bagaimana teman-teman? Percaya dengan orientasi-orientasi baru ini? 😀

Luqman Hadi

Orang Bondowoso ini teman sekamar saya. Entrepeneur sekaligus mahasiswa S2 dibidang game ini adalah anak STEI ITB angkatan 98. Beda sepuluh tahun memang, tapi jiwanya itu lo, muda sekali. Tidak terasa bahwa beliau sudah punya anak yang mau masuk TK. Kita sampai tertawa tidak percaya bersama-sama saat sadar kita berbeda sepuluh tahun. Saat itu sedang ramai-ramai berita politik. Kalau tidak salah tentang cicak versus buaya. beliau sempat nyeletuk; “Kalau saya jadi presiden, saya ingin tampil di televisi setiap minggu. Langsung bicarakan strategi pemecahan masalah negara kepada rakyat”. Wah, ternyata pemikiran kita sama. Langsung saja saya pancing-pancing beliau ke pemikiran Zeitgeist dengan ide; “Masalah negara sebenarnya didominasi dengan masalah teknik, sisanya sedikit masalah administrasi. Maka seharusnya pemecah problem bangsa adalah kelompok saintis yang terbuka, sehingga sulit kepentingan-kepentingan kapitalis dan ‘politik-jual-diri’ mempengaruhi kebijakan yang menyangkut khalayak banyak”. sebelas duabelas, beliau setuju dengan pendapat saya.

Hal yang paling merugikan baginya adalah “Apa yang kita anggap penting, ternyata tidak penting, atau apa yang kita anggap tidak penting, ternyata penting”. Kata-kata yang sungguh membekas di hati saya. Kata-kata ini pula yang menjadi dasar menuju rumusan selanjutnya; “Maka, keberhasilan, baik itu bagi individu, organisasi, pemerintah, maupun seluruh warga bumi, ditentukan oleh keakurasian dalam mendifinisikan masalah”. Wah, tercium sekali ya, bau tekniknya. Beliau lalu memberi contoh Singapura dan Mesir, sebagai negara yang mampu bangkit karena akurat dalam mendefinisikan masalah mereka. Berbeda sekali dengan Indonesia, yang menurutnya masih bertentangan antara politikus dengan teknis saintis dan entrepreneur. Menurut saya, meskipun politikus sadar bahwa teknis saintis dan entrepreneur-lah yang menjadi ujung tombak kemajuan, bangsa tidak akan maju selama politikus masih pongah di depan tanpa mau memberikan tempatnya bagi teknis saintis dan entrepreneur.

Mengomentari pendapat Sandy, tentang orientasi lulusan TI yang sebenarnya tidak perlu Ijazah, Beliau berkata, hal itu ada benarnya, namun ada salahnya juga untuk beberapa orang.

Iklan