Judul diatas mungkin terdengar sombong. Faktanya; judul tersebut dibuat demi kepentingan jurnalistik, agar terlihat lebih menjual.

Saya sudah tetapkan sabelumnya; “Saya mau jadi pengusaha”. Jadi, untuk apa titel “cum laude” bagi saya? Saya jawab; “Untuk kebahagian orang tua saya”. Tidak pernah salah seorang anak yang ingin membahagiakan orang tuanya.

Lalu apa hubungannya dengan integritas saya? Hubungannya adalah; saya mungkin masih bisa lulus Statistika jika saya menitip absen pada teman saya yang masuk. Ya, Pak dosen, di akhir perkuliahan, tiba-tiba menerapkan aturan sepihak; “Barang siapa yang absennya di atas 25%, nilai otomatis E”, setelah di awal perkuliahan bilang; “Saya tidak mementingkan kehadiran siswa di kelas”. Inkonsistensi inilah yang amat saya sesalkan. Tapi saya ingat kata orang bijak; setiap ada penyesalan, selalu ada pelajaran yang bisa diambil.

Lemahnya penegakan hukum juga jadi salah satu alasan saya suka malas menandatangani presensi meskipun saya hadir di kelas. Sejak tahun lalu telah dicanangkan aturan yang cukup seram; “Mahasiswa dengan kehadiran dibawah 75% dilarang mengikuti UAS”. Setelah membaca peraturan itu, saya menjalani perkuliahan dengan hati-hati. Ternyata di akhir semester, peraturan tinggalah peraturan. Teman-teman yang kehadiran dibawah 75% masih bisa UAS dengan aman dan tentram. Hal itu yang membuat saya jadi malas mengantri menulis tanda tangan kehadiran di semester selanjutnya, semester dimana saya tidak lulus Statistik. Suatu hal yang saya sesali bersama kemalasan saya akan hal yang remeh temeh itu.

Titip Absen
Banyak teman saya yang tanpa malu melakukan praktek titip-absen. Mungkin banyak juga yang tidak mau melakukannya, tapi tentu mereka tidak terekspos selayaknya yang melakukan. Saya tidak mau menitip absen, juga dititipkan absen.

Saya bukan Idealis, tes psikologis berkata bahwa saya adalah seorang Rasional, lebih tepatnya seorang “Penemu” (ENTP). Menurut pemikiran saya;ย  korupsi memiliki standar yang fleksibel. Saat bermain dengan korupsi kecil, tanpa sadar itu menurunkan standar-korupsi seseorang ke daerah yang lebih rendah. Maka saya memilih untuk tidak bermain-main dengan korupsi kecil. Semoga pemikiran saya ternyata benar. Karena saya sudah kehilangan salah satu kesempatan untuk membahagiakan orang tua saya demi itu.

Iklan