Radiohead adalah sebuah band Inggris yang produktif. Lagu yang membuat mereka meledak,
Creep dirilis 1992. Album terakhir mereka In Rainbow dirilis 2007. Sekarangpun mereka sedang
menyiapkan album terbaru.
Albumnya OK Computer (1997) mendapat banyak pengakuan sebagai album yang sangat futuristik,
dalam artian musiknya sudah sangat melampaui jamannya. Jika anda dengar, mungkin akan memang sulit dipercaya bahwa album tersebut dibuat tahun 1997.
Jenis musik Radiohead tidak pernah jelas dan menetap.
Salah satu band besar di zaman ini. Yang sepertinya akan menjadi salah satu acuan
yang berpengaruh beberapa dekade ke depan. Jika anda pemerhati musik, sudilah kiranya anda
mengenal Radiohead, mumpung anda terlahir di zaman ini.
Berikut saya buatkan kompilasi lagu-lagu Radiohead. Cocok untuk yang belum sama sekali kenal,
atau baru kenal beberapa lagu, atau baru kenal beberapa fase-fase musik Radiohead.
——-
Radiohead for Dummies
1. A Wolf at The Door | Hail to Thief (2003)
2. Karma Police | OK Computer (1997)
3. There There | Hail to Thief (2003)
4. Fake Plastic Tree | The Bends (1995)
5. Street Spirit | The Bends (1995)
6. Bullet Proof… I Wish I Was | The Bends (1995)
7. Where I End And You Begin | Hail to Thief (2003)
8. We Suck Young Blood | Hail to Thief (2003)
9. Jigsaw Falling Into Place | In Rainbows (2007)
10. Nude | In Rainbows (2007)
11. Idioteque | Kid A (2000)
12. Exit Music (For a Film) | OK Computer (1997)
http://upload.ui.ac.id/?a=d&i=417399
Sebenarnya ada beberapa lagu seperti Creep, High & Dry layak untuk masuk ke album ini.
Tapi tidak jadi karena sudah terlalu terkenal atau terlalu pop untuk mengenal Radiohead lebih dalam.
Sekedar berbagi pengalaman;
“Beberapa musik memang sulit untuk dicerna, butuh waktu dan konsentrasi awal-awalnya. (pengen nyaman sama musik kok malah ribet ya…??? Hhehe)
Tapi saya gak nyesel kok, belajar mencerna
musik seperti ini, dibanding pas jaman SD dulu tetep denger Stinky, Westlife, Sheila on 7.
Karena saya dapat pengalaman naik ‘roller-coster batin’ yang gak saya dapat kalau saya masih denger Westlife dkk.”
————
trivia tentang Radiohead.
Mereka sepertinya mendukung ‘pembajakan musik’.
Album terakhir mereka In Rainbow, dirilis untuk bebas diunduh,
dengan opsi untuk memberikan donasi, yang bisa sebesar 0 $.
Telah saya tamatkan novel ini (sebenarnya dalam bentuk RPG) beberapa bulan lalu.
Isinya tidak terlalu indah secara sastra dibanding Suikoden 2 atau 1. Tapi lumayan memberikan hikmah hidup.
Tokoh utamanya selalu berkata;
“Kita tidak akan pernah tahu sebelum mencoba!”
Saya kira ini cukup klise karena sudah sering dengar. Tapi mengulang-ngulang hal klise mungkin dapat memidukan internalisasi, apalagi kalau diulang-ulang dalam format cerita sastra, dalam bentuk RPG pula.
Sebenarnya tidak terlalu klise pula. Di bagian-bagian akhir cerita, tokoh utama akan menunjukan bahwa kata-kata sakti itu tidak hanya meningkatkan optimisme, tapi juga membatasi optimisme yang berlebih.
Autis, sebuah kata yang sering disalahgunakan oleh kawula muda (baca: ABG labil) Jabodetabek beberapa tahun kebelakang kembali naik daun akhir-akhir ini. Ratu Bilqis (7 thn)-lah yang menjadi pemicunya. Media ramai-ramai memberitakan kondisi bocah autis yang menyedihkan itu.
Sungguh menyedihkan kondisi Bilqis seperti yang tertulis di artikel Antara di atas (lihat tautan). Penulis berhipotesa. kondisi Bilqis diperparah oleh kondisi rumah tangga orang tuanya yang tidak harmonis. Di sisi lain, kunci kesembuhan autisme adalah kesabaran untuk terus berkomunikasi penderita. Bahkan ‘kesabaran’ disini berada dalam lingkup tahunan dan dengan tingkat intesifitas yang tinggi. Hal tersebut hanya mungkin dilakukan oleh orang yang mencintai dan menerima penderita secara penuh; kedua orang tua penderita.
Titik inilah yang ingin penulis tekankan. Memiliki anak penderita autisme setidaknya memiliki sisi positif yang bisa diambil. Hal tersebut adalah; ikatan batin antar anggota keluarga yang tinggi. Hal-hal yang menjadi argumennya adalah sebagai berikut;
- Waktu kontak keluarga amat tinggi
Jam-jam yang dilalui bersama untuk menerapi anak/saudara tercinta tentu akan meningkatkan ikatan batin keluarga.
Penulis berbicara seperti ini karena sudah melihat dengan mata kepala sendiri. Sungguh indah memiliki keluarga dengan ikatan batin yang tinggi.
*ingin menangis*.
As Shakespeare said; ‘what’s in a name?’,
arise from my mind; ‘what’s in a number?’…
Two days ago my friend got her 20. And tomorrow will be me.
Accidentally, we use decimal number system.
Accidentally, 
has such a beautiful symbol; 20.
Accidentally, we use Gregorian calendar.
Accidentally, tomorrow will be my 20.
Somehow, human loves symbol.
But in a number, there isn’t any symbol.
Number is symbol itself.
Ten years ago, i didn’t think like this.
Ada banyak hal luar biasa yang saya dapatkan dari Indosat Wireless Innovassion Contest 2009 kemarin. Mungkin lebih dari apa yang anda bayangkan tentang seorang peraih juara 4 patut dapatkan. Ya, hal tak terduga tersebut adalah obrolan-obrolan langka yang saya dapat dari grand finalis lain, para praktisi TI muda.
Mungkin saya terlalu berlebihan. Tapi memang patutlah seseorang merasa berlebihan jika dia adalah seorang mahasiswa sarjana semester 3 yang mengikuti kompetisi untuk umum. Bertemu langsung dengan para pelaku dunia industri akan selalu menggairahkan bagi siapapun yang duduk di bangku kuliah. Tak lupa ada faktor lain yang membuat saya mungkin terlihat berlebihan; pengorbanan. Lomba inovasi sudah merupakan obsesi saya sejak SMA dan saya sudah mengorbankan banyak hal untuk lomba ini. Bolos kuliah dan mengundur-undur pengerjaan tugas acap kali saya lakukan. Saya ingat sekali kebingungan saya untuk memilih Tugas 1 SDA atau Realtime Teaching Evaluator (selanjutnya disebut Evalung). Padahal, jika dihitung-hitung, proses pengerjaan Evalung sebenarnya bisa dihabiskan dalam waktu sehari. Tentu titik terberat saya adalah proses perkenalan. Saya harus berkenalan dengan JavaME ( + lingkungan pengerjaannya di Netbeans ) sekaligus PHP, saat dua hal itu masih nol besar di otak saya.
Kembali ke topik utama. Saya akan berbagi cerita-cerita hebat teman-teman di sana kepada pembaca semua. Sayang, karena keterbatasan waktu, saya hanya bisa ‘mengelaborasi’ dua orang saja. Mudah-mudahan grand-finalis lainnya bisa saya kenal lebih dekat lewat dunia maya.
Ini salah saru lelaki hebat dari Minang. Dua kali berturut-turut juara 1 di salah satu kategori di IWIC 2008 dan 2009. Di IWIC 2008 dia masih terdaftar sebagai mahasiswa di Binus, namun kini dia seorang manajer proyek di perusahaan yang banyak menyediakan konten HP untuk operator-operator selular Indonesia. Beliau tipikal profesional muda yang pandai bergaul. Saya langsung memperlihatkan antusiasme saya karena saya pikir orang seperti beliau menyenanginya.
Ada cerita yang amat menarik. Beliau sampai saat ini belum mengambil ijazahnya, hanya karena kartu Binus beliau hilang. Setelah tersenyum melihat muka ‘shock’ saya, beliau bercerita; “Praktisi TI itu gak butuh ijazah kalau dia udah punya pengalaman di bidang Industri TI. Gak bakal ditanyain tu, lu lulus dari mana. IPK lu berapa. Yang ditanyain itu, lu dah pernah ngapain aja. Kadang pas wawancara, lu malah disuruh bawa program yang lu bikin”.
Mendengarkan ‘doktrin’ beliau, saya langsung ingat omongan Fuady Rosma Hidayat; “Pas temen-temen gue lagi sibuk ngejar ilmu di kuliah, gue malah sibuk belajar hal yang gak dipelajarin di kuliah”, juga obrolan antara pak Bob Hardian, pak Irwan dan saya di Bandung; “UI itu gak maju-maju karena jiwa ‘ngoprek’-nya kurang, settingan-nya selalu untuk jadi pegawai”. Bagaimana teman-teman? Percaya dengan orientasi-orientasi baru ini?
Orang Bondowoso ini teman sekamar saya. Entrepeneur sekaligus mahasiswa S2 dibidang game ini adalah anak STEI ITB angkatan 98. Beda sepuluh tahun memang, tapi jiwanya itu lo, muda sekali. Tidak terasa bahwa beliau sudah punya anak yang mau masuk TK. Kita sampai tertawa tidak percaya bersama-sama saat sadar kita berbeda sepuluh tahun. Saat itu sedang ramai-ramai berita politik. Kalau tidak salah tentang cicak versus buaya. beliau sempat nyeletuk; “Kalau saya jadi presiden, saya ingin tampil di televisi setiap minggu. Langsung bicarakan strategi pemecahan masalah negara kepada rakyat”. Wah, ternyata pemikiran kita sama. Langsung saja saya pancing-pancing beliau ke pemikiran Zeitgeist dengan ide; “Masalah negara sebenarnya didominasi dengan masalah teknik, sisanya sedikit masalah administrasi. Maka seharusnya pemecah problem bangsa adalah kelompok saintis yang terbuka, sehingga sulit kepentingan-kepentingan kapitalis dan ‘politik-jual-diri’ mempengaruhi kebijakan yang menyangkut khalayak banyak”. sebelas duabelas, beliau setuju dengan pendapat saya.
Hal yang paling merugikan baginya adalah “Apa yang kita anggap penting, ternyata tidak penting, atau apa yang kita anggap tidak penting, ternyata penting”. Kata-kata yang sungguh membekas di hati saya. Kata-kata ini pula yang menjadi dasar menuju rumusan selanjutnya; “Maka, keberhasilan, baik itu bagi individu, organisasi, pemerintah, maupun seluruh warga bumi, ditentukan oleh keakurasian dalam mendifinisikan masalah”. Wah, tercium sekali ya, bau tekniknya. Beliau lalu memberi contoh Singapura dan Mesir, sebagai negara yang mampu bangkit karena akurat dalam mendefinisikan masalah mereka. Berbeda sekali dengan Indonesia, yang menurutnya masih bertentangan antara politikus dengan teknis saintis dan entrepreneur. Menurut saya, meskipun politikus sadar bahwa teknis saintis dan entrepreneur-lah yang menjadi ujung tombak kemajuan, bangsa tidak akan maju selama politikus masih pongah di depan tanpa mau memberikan tempatnya bagi teknis saintis dan entrepreneur.
Mengomentari pendapat Sandy, tentang orientasi lulusan TI yang sebenarnya tidak perlu Ijazah, Beliau berkata, hal itu ada benarnya, namun ada salahnya juga untuk beberapa orang.
orang yang tidak biasa melihat kekerasan fisik pada manusia disarankan tidak melihat halaman ini)
= Berbagai macam konflik di bumi ini meyiratkan ada
= berbagai macam pandangan dan latar belakang kita manusia,,,
= Sungguh kasihan mereka yang memonopoli pikiran
= diri mereka terkungkung oleh “keluarga” mereka sendiri,
= oleh himpunan-himpunan orang-orang beridentitas
=======
Berpendapat/pandangan/asumsi boleh,
tapi agar semua orang nyaman,
ambil-lah dari sudut pandang-sudut pandang seluas mungkin yang bisa kalian ambil…

Karena eksklusivisme & chauvinisme adalah
sumber perpecahan umat manusia, seberapapun
indahnya kekeluargaan dari kotak-kotak
identitas bagi kita manusia.

Sejarah telah membuktikannya… ;

Itu pendapat saya atas fenomena ini,
kalau kamu? ![]()
Sepakat! Saya bergabung..!!!
Anda? Terserah, tapi saran saya; mengikuti kata
hati tentu akan lebih baik buat anda,, -> klik untuk bergabung
Baca manifesto dibawah ini, lalu ikuti kata
hati anda;
MANIFESTO MODERNISATOR
Kami adalah modernisator Indonesia
Kami adalah generasi pertama manusia Indonesia abad 21
Kami adalah anak-anak bangsa yang berjiwa muda, penuh kebanggaan, percaya diri, dan berprestasi
Kami bangga dengan kekayaan dan keluhuran warisan budaya Indonesia, dan yakin bahwa kejayaan Indonesia yang lebih besar masih menanti di masa depan
Semboyan kami adalah “pengabdian, keunggulan, inovasi, keterbukaan, konektifitas”. Kami yakin nilai-nilai inilah yang akan memicu ledakan kreatifitas Indonesia
Generasi kami berorientasi pada peluang, bukan rasa cemas; dipacu oleh energi positif, bukan energi negatif; dengan wawasan yang terus menyongsong hari esok; dan dengan terus menonjolkan sikap moderat dan pluralisme sebagai kunci sukses
Kami berpandangan bahwa perubahan yang terpenting adalah modernisasi cara pandang, karena Indonesia abad ke-21 harus memiliki wawasan abad ke-21 guna menjawab berbagai tantangan baru yang belum terpikirkan oleh generasi pendahulu.
Karena itulah kami ingin terus membantu membuka pikiran bangsa
Kami ingin agar Indonesia bukan hanya menjalani reformasi, namun juga mengalami transformasi
Generasi kami menganggap kebangsaan Indonesia, kebhinekaan, demokrasi dan pluralisme sebagai darah daging kami yang alami
Generasi kami tidak takut dengan perubahan: kami justru merasa terpacu dengan perubahan. Kami selalu mencari ide dan inovasi baru, dan yakin bahwa perubahan yang berkesinabungan adalah kunci menuju vitalitas dan kesuksesan bangsa
Kami akan selalu menjaga gelora nasionalisme, dan akan terus mengobarkan internasionalisme Indonesia
Kami percaya bahwa kini ancaman bangsa yang paling nyata adalah korupsi, kebodohan, ketidak-pedulian, potensi konflik, marginalisasi, ekstrimisme, xenophobia dan ketidak-mampuan membaca tanda zaman
Dalam kurun waktu satu generasi, kami ingin di Indonesia ada 100.000 Phd, 100 pusat keunggulan di seluruh penjuru negeri, 25 universitas bertaraf dunia, dan tampilnya komunitas besar ilmu pengetahuan (knowledge society) yang cemerlang dan dinamis di Indonesia
Dalam satu generasi, kami ingin Indonesia mempunyai empat juta pengusaha, menjadi salah satu ekonomi unggul yang paling kompetitif di Asia, handal beradaptasi dan meraih keuntungan dari arus globalisasi, dan melesat jauh melampaui target internasional Millenium Development Goals dengan kemakmuran yang relatif merata dari Sabang sampai Merauke
Dalam jangka menengah dan panjang, kami ingin agar Indonesia masuk ke dalam 10 besar ekonomi dunia, menjadi ekonomi ramah lingkungan yang mapan, dan mencapai “nol kemiskinan” (zero poverty)
Kami senantiasa haus inspirasi, dan kami juga ingin menjadi inspirasi bagi orang lain
Generasi kami ingin menoreh prestasi sendiri; mencetak pahlawan masa kini, dan mempunyai capaian sejarah sendiri
Karena kebesaran sebuah bangsa tercermin dalam sastranya, seni arsitekturnya, dan desain-nya, kami ingin mendorong kebangkitan Indonesia di dunia seni dan industri kreatif
Dengan semangat 1945 yang tak pernah padam, dengan keyakinan pada demokrasi dan reformasi, dan didorong energi positif dan nasionalisme yang sehat, kami akan bahu-membahu dengan semua pihak yang berniat men-transformasikan Indonesia menjadi sebuah bangsa yang besar di abad ke 21.
Dan pekerjaan besar ini dimulai disini, sekarang..
Ada ‘nuansa’ yang masih luput dan masih di luar jangkauan wawasan manifesto ini.
Tapi tak apa,
saya pikir memang masih terlalu cepat beberapa tahun untuk mengekspresikan hal itu pada kebanyakan masyarakat.
Judul diatas mungkin terdengar sombong. Faktanya; judul tersebut dibuat demi kepentingan jurnalistik, agar terlihat lebih menjual.
Saya sudah tetapkan sabelumnya; “Saya mau jadi pengusaha”. Jadi, untuk apa titel “cum laude” bagi saya? Saya jawab; “Untuk kebahagian orang tua saya”. Tidak pernah salah seorang anak yang ingin membahagiakan orang tuanya.
Lalu apa hubungannya dengan integritas saya? Hubungannya adalah; saya mungkin masih bisa lulus Statistika jika saya menitip absen pada teman saya yang masuk. Ya, Pak dosen, di akhir perkuliahan, tiba-tiba menerapkan aturan sepihak; “Barang siapa yang absennya di atas 25%, nilai otomatis E”, setelah di awal perkuliahan bilang; “Saya tidak mementingkan kehadiran siswa di kelas”. Inkonsistensi inilah yang amat saya sesalkan. Tapi saya ingat kata orang bijak; setiap ada penyesalan, selalu ada pelajaran yang bisa diambil.
Lemahnya penegakan hukum juga jadi salah satu alasan saya suka malas menandatangani presensi meskipun saya hadir di kelas. Sejak tahun lalu telah dicanangkan aturan yang cukup seram; “Mahasiswa dengan kehadiran dibawah 75% dilarang mengikuti UAS”. Setelah membaca peraturan itu, saya menjalani perkuliahan dengan hati-hati. Ternyata di akhir semester, peraturan tinggalah peraturan. Teman-teman yang kehadiran dibawah 75% masih bisa UAS dengan aman dan tentram. Hal itu yang membuat saya jadi malas mengantri menulis tanda tangan kehadiran di semester selanjutnya, semester dimana saya tidak lulus Statistik. Suatu hal yang saya sesali bersama kemalasan saya akan hal yang remeh temeh itu.
Titip Absen
Banyak teman saya yang tanpa malu melakukan praktek titip-absen. Mungkin banyak juga yang tidak mau melakukannya, tapi tentu mereka tidak terekspos selayaknya yang melakukan. Saya tidak mau menitip absen, juga dititipkan absen.
Saya bukan Idealis, tes psikologis berkata bahwa saya adalah seorang Rasional, lebih tepatnya seorang “Penemu” (ENTP). Menurut pemikiran saya; korupsi memiliki standar yang fleksibel. Saat bermain dengan korupsi kecil, tanpa sadar itu menurunkan standar-korupsi seseorang ke daerah yang lebih rendah. Maka saya memilih untuk tidak bermain-main dengan korupsi kecil. Semoga pemikiran saya ternyata benar. Karena saya sudah kehilangan salah satu kesempatan untuk membahagiakan orang tua saya demi itu.
Kelas dua SMA gw dah mikir2 mau kuliah di jurusan apa…
dapatlah tiga pilihan; Teknologi Informasi, Psikologi, ato Filsafat…
berhubung ortu ridho-nya gw masuk di yang pertama,
jadi gw mantapkan diri untuk kaga belajar IPS…
trus gw langsung beli buku kumpulan soal-soal (& jawaban) ujian seleksi PTN (IPA)
dari tahun 1975 ampe 2006,,,
berhubung belum belajar semua materi SMA,
tu buku jadi sering nganggur…
nah, di kelas tiga barulah saya perang habis-habisan dengan tu buku.
dan karena saya sudah membuat aliansi dengan bimbel -yang sebut saja- NF,
makin PD-lah saya.
saya makan tuh buku dari depan,
gara2nya gw jadi kenal apa itu SKALU,
langsung muncul perasaan mistis, karena mengerjakan
ujian yang dikerjakan paman gw dulu,,
ujian yang membuat paman gw gagal masuk FK UI,,
(meskipun sekarang dah jadi kepala dinas
kesehatan di sintang, kalimantan. sukses itu gak harus masuk FK UI kan?)
ujian yang amat mistis karena soal pertamanya adalah;
“2 + 2 adalah“
dan pilihannya (kalau tidak salah) adalah;
a) 0
b) 1
c) 4
d) tidak tahu
melihat opsi (d) menambahkan perasaan mistis di benak saya…
Tahun demi tahun gw lalui dalam jangka waktu setahun,
(:-D ngerti kan?)
gw lalui sampai2 di semester 6
gw cuma ikut upacara bendera 2 kali,
di awal semester, sama di akhir semester,
sisanya gw habiskan di kolong meja kelas,
ngumpet sambil perang melawan tu buku…
(pernah gw ngumpet bedua doang ama cewe,
tetep aje gw meratiin buku,
benar-benar cowo yang dingin…
bukanye gw homo ato gak romantis,
emang cewe barang maenan apa…)
selesai UMB ada dua berita baik,
1) menurut hitungan quick count dari aliansi gw, -sebut saja- NF,
gw dipastikan masuk Sistem Informasi Fasilkom UI,
sedangkan untuk Ilmu Komputer agak mepet…
2) perang gw makin dahsyat,
karena kali ini incarannya ITB,
ternyata tu buku gagal gw kalahkan,
karena pas gw baru mau ke tahun 2000-an,
ternyata pengumuman UMB menyatakan gw layak jadi
anak Fasilkom UI…
(meskipun pas pengumuman agak sedih,
karena baru tahu kalau tidak bisa mengejar teman ke ITB,
Ada daftar ulang UI yang menghangi…)
akhirnya kelanjutan perang terhadap buku itu gw serahkan
ke sepupu gw di Pandang Panjang,
yang ternyata juga adik kelasnya MiftahFasilkom08 & DianeFasilkom08…
(sempitnya dunia
)
tar klo buku itu dah di tangan gw lagi,
gw mau foto bareng sama tu buku,,
terima kasih buku,
terima kasih -sebut saja- NF,
terima kasih pak/ibu guru saya dari TK sampe SMA,
terima kasih mama & papa,
gw yang gak pernah 10 besar
di sebuah SMA yang bukan terbaik di Tangerang, -sebut saja SMAN 2 Tangerang-,
ternyata masuk Fasilkom UI.
gw yang umur 2 tahun ikut acara wisuda mama di balairung,
beberapa tahun lagi bakal diwisuda juga di balarung,
(amin)
dan akhirnya salah satu kakek gw punya keturunan yang
kuliah, langsung di UI pula…!!!
…
moral dari cerita ini adalah sebuah kesimpulan,
semua anak SMA itu bisa kok masuk FK UI ato IF ITB,
asal nyiapinnya total serius selama 2-3 tahun….
kenapa?
karena dari yang gw liat,
gaya bicara & kecerdasan kebanyakan temen2 gw
yang di Fasilkom UI dan berasal dari SMA unggulan
itu gak jauh beda sama temen2 SMA gw yang biasa2 aja
atau malah yang akademisnya buruk.
mungkin militansilah yang membedakan.
mungkin.
================
dan pertanyaan besarnya adalah,
mengapa sekarang saya tidak bisa
semilitan di waktu SMA semester 5-6 dulu ????
T_T
harus menetapkan fokus.
harus!
Tulisan ini bisa ada karena kebaikan seseorang yang membeli album The Resistance dari iTunes lalu menyebarkan bonus eksklusifnya ke kita-kita ini. Berikut bonus Eksklusifnya
“It expresses a general mistrust of Bankers, Global Corporations, and Politicians.“
NB: kalau teman-teman mau tahu lebih jelas apa yang Matt maksud, silahkan tonton film ini lalu unduh film ini + subtitle.
Sungguh benar-benar dalam makna Exogenesis. Ada yang tahu film yang berlatar belakang seperti Exogenesis?

















